Senin, 07 Oktober 2013

SISTEM MEDIS Sistem Perawatan Kesehatan

PENANGANAN CIDERA OLAH RAGA



 Drs. Santika Rentika Hadi, M.Kes.

     PENDAHULUAN
Kesehatan adalah suatu hak asasi manusia, bahwa meningkatkan derajad kesehatan setinggi mungkin merupakan tujuan social yang penting. Oleh karena itu rakyat di setiap negara memiliki hak dan kewajiban untuk berperan serta atau berpartisipasi social, baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan mereka. Apabila upaya yang dilakukannya berhasil maka derajad kesehatan akan meningkat dan semua orang mencapai kesehatan yang memungkinkan untuk hidup produktif, baik di bidang social maupun ekonomi.
Keberhasilan upaya pelayanan kesehatan tidak lepas dari pendekatan antropologi yang mendasar, dengan menggantungkan kepada sistemnya. Suatu ‘sistem’ yang diartikan sebagai agregasi atau pengelompokan objek-objek yang dipersatukan oleh beberapa bentuk interaksi yang tetap atau saling tergantung, sekelompok unit yang berbeda, yang dikombinasikan sedemikian rupa oleh alam atau oleh seni sehingga membentuk suatu keseluruhan yang integral, dan berfungsi, beroperasi atau bergerak dalam kesatuan. Dalam antropologi yang dimaksud ‘keseluruhan integral’ adalah system social budaya atau kebudayaan, dalam ekologi ‘keseluruhan integral’ adalah suatu ekosistem.
            Pada kenyatannya lokalitas kesatuan-kesatuan masyarakat pada umumnya, perawatan kesehatan  mencakup 3 (tiga) sector, dimana satu dengan yang lainnya berada dalam hubungan tumpang tindih (saling beririsan), yaitu : Umum, Kedukunan (folk), Profesional (cosmopolitan dan regional). Ketiga sector ini dapat berinteraksi antara satu system dengan system yang lainnya merupakan perwujudan kejamakan system-sistem medis yang umumnya dijumpai pada kesatuan-kesatuan social di negara berkembang
            Lebih lanjut  akan dicoba mengulas fenomena kehidupan social masyarakat jawa pada umumnya dalam menghadapi permasalahan cidera ragawi akibat aktivitas olah raga yang disebabkan oleh benturan maupun rudapaksa, yang paling tidak berakibat luka-luka,  terkilir, dislokasi persendian, ataupun sampai pada fraktur tulang. Pembahasan ini akan dibatasi pada system medis yang menyangkut system pelayanan kesehatan dengan cakupan umum, kedukunan, maupun professional.

       PEMBAHASAN
       Cidera Olah Raga
Aktifitas olah raga dapat memberikan efek positif berupa kesehatan dan kebugaran pada pelakunya. Namun dapat pula memberikan dampak negative berupa cidera karena aktifitas olah raga tersebut. Beberapa pilihan aktvitas olah raga memiliki factor resiko yang berbeda-beda. Beberapa aktivitas olah raga dapat sangat berpeluang memberikan dampak cidera. Olah raga yang memiliki factor kemungkinan cidera lebih besar, dapat ditandai dengan bentuk aktivitasnya yang meledak-ledak (dengan power besar), body contac, membutuhkan kecepatan tinggi Sebagai contohnya olah raga dengan factor cidera tinggi diantaranya : permainan sepak bola, bola basket, bela diri (pencak silat, karate, taekwondo, kempo dan lain-lainnya). Cabang olah raga yang lain bukan berarti tanpa factor resiko cidera, hampir semua cabang olah raga memiliki factor resiko cidera.
Cidera olah raga yang sering terjadi : luka-luka, salah urat, dis lokasi sendi, patah tulang, over training. Dalam menanggapi kejadian cidera ini, olah ragawan, pelatih / Pembina, orang tua (senior) dalam kultur social jawa sangat masih bervariasi, dari melalui perawatan sendiri, perawatan perdukunan, maupun perwatan professional dan birokrasi.    
      Sistem Perawatan Umum pada Cidera Olah Raga
Sistem perawatan umum (popular sector) dalam lingkup social cenderung selalu menjadi bagian terbesar dari sektor-sektor lainnya. Sumber perawatan ini dikenal sebagai selftreatment  atau home remidies lebih condong disediakan untuk pengobatan penyakit atau gangguan kesehatan yang oleh penderita atau keluarganya dianggap ringan. Kenyataannya menunjukkan pentingnya system ini melebihi system-sistem perawatan lainnya adalah karena peranannya sebagai pengobatan pembantu bagi penderita-penderita yang menjalani perawatan pada salah satu sektor lainnya, baik dukun maupun praktisi kedokteran atau professional lainnya. Dengan kata lain, fungsi system perawatan umum adalah sebagai perawatan utama maupun sebagai perawatan pembantu.
Sistem ini memiliki kompleks pengetahuan, kepercayaan, nilai, aturan (umum dan adat istiadat) dan praktek yang dipergunakan dalam mengamati symptom-simptom, mendiagnosa gangguan esehatan dan memutuskan pengobatan, dalam mencegah atau menjaga diri dari berbagai gangguan kesehatan baik yang berbentuk kodrat maupun adikodrati. Dalam  system ini latar interaksi adalah keluarga.  Berbeda dengan system perawatan kesehatan lainnya, system ini tidak mengenal adanya kedudukan praktisi yang memiliki pengetahuan/ketrampilan medis khusus seperti dukun dan yang sejenisnya (sangkal putung misalnya) ataupun praktisi kedokteran atau professional lainnya. Disini pengambilan eputusan medis berlangsung dalam jaringan social tertentu dengan seorang atau beberapa orang yang dianggap berwenang penuh untuk menentukan keputusan akhir atau pelaksanaan perawatan. Proses pengambilan keputusan dalam jaringan social seperti ini pula yang dijalankan manakala si penderita dianggap perlu untuk dibawa kepada seorang dukun atau praktisi kedokteran tertentu.
Pada terjadinya cidera olah raga ringan yang berupa luka-luka ringan, salah urat, kecapaian yang berlebih, penanganan cidera sering kali masih dengan system umum. Luka-luka ringan misalnya, pelaku olah raga/ pelatih/ orang tua masih menganggap cukup dengan merawatnya sendiri di rumah. Pilihan alternative obat dilingkungan masyarakat desa masih mengenal pengobatan dengan lender bekicot, lender batang pisang dan lain-lain. Pada cidera kecapaian yang berlebihan mengakibatkan badan lemas, lesu, pilihan alternative obat dilingkungan masyarakat dengan menelan telur ayam kampong, meminum air madu dan lain-lain.
Perawatan umum ini setidaknya dapat memberikan keberhasilan perawatan kesehatan, namun yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa perawatan yang sifatnya umum ini dapat memiliki kelemahan dalam akurasi taraf pemulihan, dan efek higienis dari pengobatan.    
        Sistem Perawatan Kedukunan Pada Cidera Olah Raga
Sektor system perawatan kedukunan (non professional dan non birokratis) adalah merupakan system dengan kontek religi pribumi pada suku-suku bangsa non Barat, ‘primitif’, dan pedesaan. Kedudukan atau system medis kedukunan, tradisional/pribumi dengan  bentuk-bentuk  yang kodrati maupun adi kodrati dari segi-segi etiologi, terapi dan frekwensi penyakit, jasmani maupun jiwa.
Dalam system perawatan ini factor keyakinan dan sugesti lebih mendominasi. Pada kenyataannya masyarakat jawa, khususnya di pedesaan masih banyak yang melakukannya. Pengobatan dengan air putih melalui do’a dan jampi-jami yang system pengobatannya tidak dapat dijelaskan melalui metode ilmiah. Reposisi dislokasi sendi, bahkan fraktura tulang dilakukan hanya dengan mengusap-usap si penderita, masih ditemui pada masyarakat pedesaan.
Sistem perawatan kedukunan ini pada kenyataannya dapat memberikan pemulihan pada kasus cidera olah raga. Yang perlu dipertimbangkan bahwa beberapa kasus cidera, dengan tanpa diberikan perlakuanpun akan mengalami pemulihan, maka dengan bantuan system perdukunan yang memberikan sugesti akan lebih memperlancar penyembuhan. Namun demikian validitas pemulihan tidaklah dapat dipertanggungjawabkan.  Kasus fraktura dengan system perawatan kedukunan misalkan, secara pandangan luar cidera telah mengalami kesembuhan, namun masih mengandung factor resiko yang tinggi untuk fraktur kembali, karena penyambungan yang sebenarnya tidak sempurna.

        Sistem Perawatan Profesional Pada Cidera Olah Raga
Perawatan yang terorganisasi dengan berbagai pranata pelayanan kesehatan. Seperti yang terdapat di semua negara di dunia ini, profesi ini dikenal sebagai system medis formal, modern, ilmiah, dan kosmopilitan, atau kedokteran modern. Di samping itu, tergolong pula dalam sector ini, antara lain adalah system tradisional kodrati yang berkembang dalam kebudayaan dan peradaban Cina dan system medis Ayurveda yang berkembang dalam kebudayaan-kebudayaan dan peradaban India. Begitu juga system medis Galanik-Arabik yang berkembang di negara-negara Arab tertentu. Ketiga system medis non kedoktera modern ini mengembangkan proses profesionalisme yang dijalankan dalam profesi kedokteran modern.
            Di dunia Barat cidera olah raga ditangani dengan system perawatan professional sehingga pemulihan dapat dipertanggung jawabkan, dapat diprediksi tentang waktu pemulihan sehingga olah ragawan dapat merencanakan program aktivitasnya.

       PENUTUP
Dalam penanganan cidera olah raga khususnya di tanah Jawa system perawatan medis yang terdiri dari tiga pengelomokan yaitu : Umum, Kedukunan (folk), Profesional (cosmopolitan dan regional), ketiganya masih mendapatkan tempat bagi para pelaku olah raga. System perawatan medis yang umum atau berdasarkan keluarga merupakan perawatan yang paling mendominasi terutama pada cidera-cidera ringan. Pada cidera berat perlu dipertimbangkan ketidak akuratan system perawatan umum dan kedukunan yang  dapat memberikan dampak buruk pada masa yang akan datang (jangka panjang).

              DAFTAR PUSTAKA

Brooks GA and Fahey TD, 1987. Exercise Physiology Human Bioenergetics and Its  Applications. New York : John Willey & Sons.

Foster, G.M. 1976, Medical Antropology and International Health Planning. MedicaAntropology
            Newsletter.  

Fox EL. Bowers RW and Fos ML, 1988. The Physiological Basis of Physical Education and Athletics. USA; Sounders College Publishing. 
Michael Winkelman, 2009, Culture and Health, Jossey Bass, USA

Viru A and Smirnova T, 1995. Health Promotion Exercise Training. Sport Med. 19(2).

 

Minggu, 29 September 2013

KADAR GLIKOGEN HATI SETELAH LATIHAN AEROBIK DAN ANAEROBIK

                  Drs. Santika Rentika Hadi, M.Kes.



Abstrak :  Penelitian ini mempelajari pengaruh latihan aerobik dan latihan anaerobik  terhadap glikogen hati. Penelitian ini menggunakan “eksperimen laboratorik” dengan rancangan penelitian “Randomised Post Test Only Control Group Design”. Sebagai sampel adalah tikus putih jenis wistar sejumlah 30 ekor. Sampel dibagi dalam 3 kelompok dengan cara random masing-masing kelompok 10 ekor. Kelompok eksperimen 1 diberi perlakukan latihan aerobik dengan renang secara terus menerus selama 13 menit, kelompok eksperimen 2 diberi perlakuan latihan anaerobik berupa renang secara intermiten dengan 4 set dan rasio kerja : istirahat = 1:3, sedangkan kelompok kontrol tidak diberi perlakuan. Latihan dilakukan selama 8 minggu, dengan frekwensi latihan 3 kali per minggu. Glikogen hati diperiksa secara histologis dengan menghitung jumlah sel hati yang mempunyai kandungan glikogen dengan masing-masing skornya. Data dianalisis dengan statistik deskriptif, analisis varian pada taraf signifikansi 5 %, disimpulkan : (1) Latihan aerobik  dalam penelitian ini tidak meningkatkan glikogen hati (2) Latihan anaerobik  dalam penelitian ini tidak meningkatkan glikogen hati (3) Pengaruh latihan aerobik dan latihan anaerobik terhadap glikogen hati dalam penelitian ini tidak berbeda secara bermakna (p > 0,05).

Kata kunci : Latihan aerobik dan anaerobik, glikogen hati.

Karbohidrat, lemak, dan protein dapat dijadikan sumber energi untuk latihan otot. Karbohidrat adalah sumber energi utama untuk fungsi semua tubuh dan aktivitas fisik (Anspaugh, 1994). Karbohidrat yang dikonsumsi oleh tubuh dibentuk ATP di dalam sel. Dalam hati, karbohidrat disimpan dalam bentuk glikogen (Berger, 1985).  Dalam metabolisme karbohidrat pada hati mempunyai fungsi spesifik yaitu menyimpan glikogen, mengubah galaktosa dan fruktosa menjadi glukosa, dan membentuk banyak sintesa kimia penting dari hasil perantara metabolisme karbohidrat (Guyton, 1991). Hati penting untuk mempertahankan kadar gula darah. Sel hati mengambil gula darah dan menyimpannya sebagai glikogen (Tambajong, 1995). Perlu diketahui pola penyimpanan glikogen dalam hati yang dikaitkan dengan penggunaan dan penimbunan kembali glikogen hati pada latihan aerobik dan latihan anaerobik.
            Glikogen hati menurun mengikuti latihan fisik dan glikogen hati juga menurun selama tidak mengkonsumsi karbohidrat (Fox, 1993). Kelelahan bisa terjadi disebabkan oleh penurunan glikogen otot, glikogen hati dan menurunnya glukosa darah pada system saraf (Lamb, 1993). Turunnya glikogen hati menimbulkan kompensasi dengan terjadinya resintesis glikogen hati setelah latihan dengan mengkonsumsi karbohidrat. Simpanan glikogen dapat ditingkatkan dengan beberapa diet dan prosedur latihan (Fox, 1993). Simpanan glikogen lebih tinggi pada subjek yang terlatih dan menjadi 2,5 kali lebih tinggi setelah latihan (Gollnick, 1972). Pada saat latihan fisik glikogen hati menurun, diikuti dengan peningkatan kembali glikogen hati setelah istirahat dengan mengkonsumsi karbohidrat. Latihan fisik yang dilakukan secara terus menerus memungkinkan terjadinya peningkatan simpanan glikogen hati, namun peningkatan simpanan glikogen hati dengan latihan fisik aerobik dan anaerobik belum diungkap. Hal ini merupakan suatu yang penting untuk mengetahui jenis latihan fisik yang lebih baik untuk meningkatkan simpanan glikogen hati.
            Penelitian yang banyak dilakukan adalah pengaruh latihan dan diet tertentu terhadap glikogen hati, seperti yang dilaporkan oleh Matsu T (1996) Simpanan glikogen hati tidak berbeda antara kelompok diberi diet capsaicin dengan kelompok kontrol selama dan setelah latihan.   Penelitian yang dilakukan Litvinova (1995) pada tikus wistar setelah berenang 3 jam, level glikogen hati menjadi rendah sampai pada periode 7 jam. Pemberian sucrose pada periode 3 jam dan 5 jam menghambat terjadinya penurunan glikogen hati. 
            Simpanan glikogen hati memegang peranan dalam aktivitas yang berat. Kapasitas simpanan glikogen yang tinggi dalam hati, berperan untuk menjaga level glukosa darah dan penambahan glikogen otot selama latihan yang berat. Dapat dikatakan bahwa dengan bertambah besarnya simpanan glikogen hati meningkatkan kapasitas kerja seseorang atau menandakan tingginya taraf kesegaran jasmani seseorang ( Berger, 1982).
            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan aerobik dan latihan anaerobik  terhadap glikogen hati. Hasil penelitian berguna bagi kajian fisiologi olahraga lebih lanjut untuk pemilihan bentuk latihan fisik menuju peningkatan kesegaran jasmani.


Glikogen Hati dan Latihan
Hati penting untuk mempertahankan kadar gula darah. Sel hati mengambil gula darah dan menyimpannya sebagai glikogen (Tambajong, 1995). Pemeliharaan glukosa darah yang mencukupi adalah peran hati (Brooks, 1987). Fox (1993) glikogen hati akan menurun mengikuti latihan, dan akan menurun selama tidak mengkonsumsi karbohidrat. Penggunaan glikogen selama latihan tergantung pada beberapa faktor, diantaranya intensitas, lamanya dan model latihan.
Banyak energi yang diperoleh dari glikogen tergantung dari intensitas latihan disamping faktor seperti diet, status latihan, kondisi latihan dan sebagainya (Jakobs, 1982). Medbo (1992) juga mengatakan bahwa intensitas yang tinggi, kadar glikogen otot akan berkurang, karena banyaknya glikogen yang dipecah. Dalam waktu singkat, dengan latihan berat, level glukosa darah meningkat diatas pada saat sebelum latihan, sebab system saraf aotonomik mendorong glikogenolisis hati (Brooks, 1987).
Pada latihan anaerobik, dalam proses glikolisis anaerobic, melibatkan serangkaian reaksi kimia yang menghasilkan energi dari molekul glikogen. Kerugian dari proses ini adalah mendaptkan hasil akhir berupa asam laktat yang berhubungan dengan kelelahan (Pate, 1984), Lamb (1984) menampilkan data bukti nyata yang terjadi pada otot selama latihan anaerobik. Dalam hal ini digambarkan pada latihan interval :  Asam laktat darah meningkat terus sampai batas maksimal; Asam laktat di otot meningkat pada saat kerja fisik dan menurun kembali pada saat istirahat, penurunan pada saat istirahat tidak mencapai pada kondisi awal sehingga pada kerja fisik beriktnya asam laktat di otot selalu meningkat, dan akhirnya mencapai ambang maksimal; Kreatin pospat menurun pada saat kerja fisik dan sedikit meningkat pada saat istirahat, peningkatan pada saat istirahat tidak mencapai pada kondisi awal sehingga pada kerja fisik berikutnya asam laktat di otot selalu menurun, dan akhirnya mencapai ambang minimal; Kekurangan oksigen dalam tubuh juga secara fluktuatif akan meningkat.
Pada biopsy hati setelah 24 jam dengan diet tinggi lemak dan protein atau latihan selama 3 jam, glikogen hati berkurang mendekati 90 %, tetapi setelah 2 hari pada diet kaya karbohigrat, glikogen hati tersedia sekitar 100% lebih besar disbanding normal (Lamb, 1984), ditunjukkan pada gambar berikut :


Level glikogyn 1% normal, resting value
200

 


150



100                             Normal resting value




50




                       
                     1 Hr Heavy Exercise             3 Hr Exercise or                    48 Hr Carbo Diet
                                                                              24 Hr Fast                             After Carbo Fast



Gambar 1 : Perubahan akibat diet dan latihan pada glikogen hati (Lamb, 1984)




            Fox (1993) mengatakan bahwa glikogen hati menurun mengikuti latihan (gambar 2). Penurunan glikogen hati diikuti peningkatan atau superkompensasi satu hari setelah mengkonsumsi karbohidrat (gambar 3).











Liver Glycogen
(Gram of glycogen per kg wet Liver Tissue)
60

50



40

30



20


10


                  
                   Rest                           Exercise

Gambar 2 : Penurunan glikogen hati pada saat latihan (Fox, 1993)


Liver Glycogen
(Gram of glycogen per kg wet Liver Tissue)

120                          Carbohydrate                           Hight
                                        Starvation                        Carbohydrate
100                                                                 Diet
                   

80

60



40


20
 

0
                   2            4          6          8         10       12        14
                                               Days

Gambar 3 : Superkompensasi glikogen hati (Fox, 1993)

METODE
            Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratories dengan menggunakan rancangan Randomized Postest Only Control Group Design (Zaenuddin, 2000).
Penelitian ini menggunakan sampel tikus putih jenis wistar, umur 94 hari pada awal perlakuan, berat lebih kurang 200 gram pada awal perlakuan, berkelamin jantan, sehat dengan ditandai dengan gerak-geriknya yang aktif. Besar sampel yang digunakan berdasarkan rumus Federel yang dikutip oleh Hanafiah (1995) yaitu :
(t-1)(r-1) > 15
Dimana :
t = Jumlah perlakuan
r = Jumlah replikasi tiap kelompok
maka dapat dihitung sebagai berikut :
(3-1)(r-1) > 15
2 (r-1)      > 15
r  > 15/2 + 1
r  >  8,5
Dari hasil perhitungan tersebut ditetapkan jumlah sampel tiap kelompok 10 ekor hewan coba. Karena penelitian ini menggunakan 3 kelompok maka keseluruhan sampel berjumlah 30 ekor hewan coba. Untuk pembagian kelompok (Ko=Kelompok kontrol dengan tanpa diberi latihan; K1=Kelompok eksperimen 1 dengan perlakuan latihan aerobik; K2=Kelompok eksperimen 2 dengan perlakuan latikan anaerobik)
            Kelompok eksperimen dengan latihan aerobik melalui renang selama 13 menit (80 % dari waktu renang maksimal). Penentuan ini berdasarkan percobaan perlakuan terhadap 10 ekor tikus dengan beban lebih kurang 3 % dari berat badan yang diikatkan pada ekor tikus, diperoleh waktu renang maksimal 16 menit 15 detik. Dari waktu rata-rata kemampuan renang maksimal  tersebut diambil 80 % yaitu 13 menit yang dianggap sebgai beban latihan. Dengan program latihan :  waktu kerja 13 menit; jumlah set 1; frekwensi 3 x seminggu; lama latihan 8 minggu; waktu latihan pagi hari pukul 08.00 Wib-selesai.
            Kelompok eksperimen dengan latihan anaerobik melalui renang secara intermitten dalam waktu 1 menit (80% waktu renang maksimal), kemudian diikuti dengan periode pulih asal selama 3x waktu kerja. Penentuan ini berdasarkan percobaan perlakuan terhadap 10 ekor tikus berenang dengan beban kurang lebih 9% dari berat badan, diperoleh rata-rata kemampuan renang maksimal 75 detik. Kemudian waktu renang maksimal tersebut diambil 80% yaitu 60 detik (1 menit) yang dianggap sebagai beban latihan. Program latihan : :  waktu kerja 13 menit; jumlah set 4; durasi set 1 menit ; waktu istirahat 3xwaktu kerja (3 menit);  frekwensi 3 x seminggu; lama latihan 8 minggu; waktu latihan pagi hari pukul 08.00 Wib-selesai.
            Dilakukan pemeriksaan glikogen hati secara histologis dengan mengamati sel hati yang mempunyai kandungan glikogen dengan diskor. Menurut buku panduan Manual of Histologic and staining Technic (1960) kandungan glikogen pada sel hepatosit tampak pada hasil pewarnaan d-PAS reaksi positif berwarna merah ungu, inti tampak biru,  dengan latar belakang hijau pucat (dengan pencahayaan hijau). Penghitungan dilakukan pada 4 lokasi lapangan pandang (dengan pemasangan graticulae seluas 20 kotak x 20 kotak, setiap sisi kotak berukuran 15 mikron).  Skoring untuk glikogen hati yang dimaksud adalah :
Skor 1 = Hepatosit dengan inti tampak jelas dikelilingi glikogen antara 0%-25%;
Skor 2 = Hepatosit dengan inti tampak jelas dikelilingi glikogen antara 25%-50%;
Skor 3 = Hepatosit dengan inti tampak jelas dikelilingi glikogen antara 50%-75%;
Skor 4 = Hepatosit dengan inti tampak jelas dikelilingi glikogen antara 75%-100%.
Data yang diperoleh ditranformasi, yaitu skor 1 menjadi 12,5; skor 2 menjadi 37,5; skor 3 menjadi 62,5; dan skor 4 menjadi 87,5.
            Data yang diperoleh dari pemeriksaan ketiga kelompok hewan coba dianalisis dengan statistik deskriptif, menggunakan anava dilanjutkan dengan t-tes, dengan taraf signifikasi 5%.

HASIL

            Deskripsi data meliputi SD dan Mean dari berbagai variable masing-masing kelompok dituangkan dalam table 1.
Tabel 1 : Hasil statistik deskriptif berbagai fariabel masing-masing kelompok.

Kelompok
Variabel
Statistik
Mean
SD
Kontrol
Berat Badan Awal
Berat Badan Akhir
Glikogen Hati
196,6000
239,3000
4901,2500
3,9497
3,8314
521,4646
Eksperimen 1
Latihan aerobik
Berat Badan Awal
Berat Badan Akhir
Glikogen Hati
194,5000
235,8000
4326,2500
3,2059
2,8983
499,0773
Eksperimen 2
Latihan anaerobik
Berat Badan Awal
Berat Badan Akhir
Glikogen Hati
197,5000
235,9000
4751,2500
4,3525
3,9847
856,5607

            Berdasarkan uji anava, berat badan pada awal perlakuan dari ketiga kelompok tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p = 0,2232>0,05), disajikan dalam table 2.

Tabel 2 : Hasil uji perbedaan variable berat badan awal
Kelompok
Mean
SD
Anava
Kontrol
Eksperimen 1
196,6000
194,5000
3,9497
3,2059


P = 0,2232
Kontrol
Eksperimen 2
196,6000
197,5000
3,9497
4,3525
Eksperimen 1
Eksperimen 2
194,5000
197,5000
3,2059
4,3525


Berdasarkan uji anava, berat badan pada akhir perlakuan dari ketiga kelompok tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p = 0,9496>0,05), disajikan dalam table 3.

Tabel 3 : Hasil uji perbedaan variable berat badan akhir
Kelompok
Mean
SD
Anava
Kontrol
Eksperimen 1
239,3000
235,8000
3,8314
2,8983


P = 0,9496
Kontrol
Eksperimen 2
239,3000
235,9000
3,8314
3,9847
Eksperimen 1
Eksperimen 2
235,8000
235,9000
2,8983
3,9847


Berdasarkan uji anava, glikogen hati pada akhir perlakuan dari ketiga kelompok tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p = 0,1387>0,05), disajikan dalam table 4.

Tabel 4  : Hasil uji perbedaan variable glikogen hati
Kelompok
Mean
SD
Anava
Kontrol
Eksperimen 1
4901,2500
4326,2500
521,4646
499,0773


P = 0,1387
Kontrol
Eksperimen 2
4901,2500
4751,2500
521,4646
856,5607
Eksperimen 1
Eksperimen 2
4326,2500
4751,2500
499,0773
856,5607


PEMBAHASAN

Data penelitian diolah dengan menggunakan statistik deskriptif, pada saat sebelum perlakuan diberikan, didapatkan bahwa berat badan ketiga kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok latihan aerobik, dan kelompok latihan anaerobik tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Kondisi awal hewan coba dianggap sama sebelum diberikan perlakuan, dengan mengendalikan variable-variabel yang dapat berpengaruh terhadap ketiga kelompok, apabila didapat perbedaan atau pengaruh pada akhir perlakuan adalah benar-benar merupakan akibat perlakuan yang diberikan.
 Berdasarkan uji anava berat badan akhir perlakuan antar kelompok, tidak didapatkan perbedaan yang bermakna, dengan demikian apabila ditemukan perbedaan pada variable glikogen hati bukan karena terjadinya perbedaan berat badan.
Glikogen hati pada ketiga kelompok yang diperiksa pada akhir perlakuan, dengan menggunakan uji anava ternyata diperoleh kenyataan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Bila membandingkan mean dari ketiga kelompok bahwa latihan aerobic tidak meningkatkan glikogen, latihan anaerobic juga tidak meningkatkan glikogen hati, bahkan mean dari glikogen hati pada kelompok aerobic berbeda jauh di bawah kelompok control, sedangkan mean glikogen hati pada kelompok anaerobic sedikit di bawah kelompok control dan sedikit di atas kelompok aerobic. Dari hasil analisis glikogen hati tersebut, didapat bahwa latihan aerobic dan anaerobic yang diberikan pada penelitian ini berdurasi 13 menit belum cukup untuk menurunkan glikogen hati. Tidak terjadinya penurunan glikogen hati maka tidak terjadi pula peningkatan atau superkompensasi pada saat diberikan rekaveri, sehingga tidak terjadi fluktuasi glikogen hati kea arah simpanan glikogen hati yang lebih tinggi.
Melihat bukti-bukti tersebut penulis beranggapan bahwa latihan yang diberikan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan durasi 13 menit denan beban sub maksimal kurang berat. Kurang beratnya latihan yang diberikan mengakibatka tidak sampai terjadi penurunan glikogen hati sehingga tidak memacu penimbunan glikogen hati yang lebih tinggi. Latihan dengan durasi 13 menit tidak sampai menurunkan glikogen hati karena pada durasi 13 menit penyediaan glikogen sebagai sumber energi masih mampu ditopang oleh simpanan glikogen otot.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil analisis data dan pembahasan disimpulkan bahwa :          (1) Latihan aerobik dalam penelitian ini tidak meningkatkan glikogen hati; (2) Latihan anaerobik dalam penelitian ini tidak meningkatkan glikogen hati; (3) Pengaruh latihan aerobik dan latihan anaerobik terhadap glikogen hati tidak berbeda secara bermakna (p>0,05); (4) Latihan dengan durasi 13 menit tidak sampai menurunkan glikogen hati karena pada durasi 13 menit penyediaan glikogen sebagai sumber energi masih mampu ditopang oleh simpanan glikogen otot.
Saran
            Berdasarkan kesimpulan dapat diberikan saran : (1) Bagi para peneliti perlu melakukan penelitian serupa yang disertai dengan pemeriksaan laktat darah; (2) Perlu melakukan penelitian serupa dengan variasi durasi latihan yang berbeda (3) Perlu melakukan penelitian serupa dengan rekaveri yang bervariasi. Sehingga dari hasil-hasil penelitian tersebut dapat membantu pengetahuan dalam pemilihan olahraga yang tepat untuk keberadaan dan fungsi organ hati.




DAFTAR PUSTAKA


Anspaungh DJ, Hamrick MH, and Rosato FD, 1994. Wellnes. Toronto: Mosby Year 
          Book Inc. pp. 161-164
Berger RA, 1982. Applied Exercise Physiology. Philadelphia: Lea & Febiger, pp. 48-49
Bompa, 1994, Teori and methodology training, WCB Brown and Benchmark.
Brooks GA and Fahey TD, 1987. Exercise Physiology Human Bioenergetics and Its 
          Applications. New York : John Willey & Sons, pp. 33-87.
Fox EL, 1993. The Physiology Basis For Exercise and Sport. WCB Brown and
          Benchmark, pp. 12-37, 296,518.
Gollnick PD, Armstrong RB, Saubert IV CW, Piehl K and Saltin B, 1972. Enzym
          Activity and Fiber Composition in Skeletal Muscle of Untrained Men, J Appl
          Physiol. 34 (5): 615-618.
Guyton, 1991. Tex Books of Medical Physiology. Philadelphia: WB Sounders Company,
          pp. 743-774.
Hanafiah KA, 1995, Rancangan Percobaan Teori dan Aplikasi, Jakarta: PT Raja Grafindo
          Persada, pp. 6-7, 187-2001.
Jacobs I, Westlin N, Karlson J, Rassmusson M, and Houghton B, 1982, Muscle Glycogen
          and Diet in Elite Soccer Players, Eur. J Appl. Physiol. 48:297-302.
Lamb DR, 1994. Physiology af Exercise, Responsis and Adaptations, Second Editing,
          New York Macmillan Publishing Company, pp. 55.
Litvinova L, and Viru A, 1995. Effect of Post Exercise Sucrose Administration on Liver
          Glycogen Repletio in Rats. Ann Nutr Metab, 39:4 203-7.
Matsuo T, Yoshioka M, and Suzuki M, 1996, Capsaicin in Diet Does Not Effect
          Glycobent Content in The Liver and Skeletal Muscle of Rats Befor and After 
          Exercise, J Nutr Sci Vitaminol. Tokyo: Jun 42:3 234-256.
Medbo JL, 1993. Glycogen Breakdownand Lactat Accumulation During High Intensity
          Cycling, Acta Physiol. Scand, 149:85-89.
Pate RR, Mc Clenenghan B, and Rottela R, 1984. Scientific Fundation of Coaching.
          Philadelphia: sounders Collage Publishing, pp. 179, 217,301-305.
Pyke, 1990, Exercise Physiology Human Bioenergetics and Its  Applications. New York :
          John Willey & Sons.
Tambajong J, 1995. Sinopsis Histologi, Jakarta: Buku Kedokteran EGC, pp. 141-146.

Amir Oron, 2006. Low-Level Laser Therapy Applied Transcranially to Rats After Induction of Stroke Significantly Reduces Long-Term Neurological Deficits, Strok AHA Journals. 37: 2620-2624.
Cooper KH, 1993. Aerobik. Jakarta; Penerbit Gramedia.
Fox EL. Bowers RW and Fos ML, 1988. The Physiological Basis of Physical Education and Athletics. USA; Sounders College Publishing. Pp. 88-96, 604-630.
Hoffman GL, Pederse BK, 1994. Exercise and the Immune System; a Model of the Stress Responese J. Immunologi Today, Volume 15 No. 8, pp 382-387.
Jiro N, Low-level laser irradiation promotes the recovery of atrophied gastrocnemius skeletal muscle in rats. Exp Physiol, 94.9, pp. 1005-1009.

Lorne H, 2004.  Low-Intensity Laser Therapy for Painful Symptoms of Diabetic Sensorimotor Polyneuropathy. Diabetes Care, 27: 921-924.
Nieman DC, 1997. Exercise Immunology : Practical Aplication. Int. J. of Sport Med. Vol. 18, No. 1, pp. 91-100.
Russhal BS, and Pyke FS, 1992. Training For Sport and Fitness. Melbourne; The mcMillam Company.
Setyawan S, 1996. Pengaruh Latihan Fisik Aerobik dan Anaerobik Terhadap Respon Ketahanan Tubuh. Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologik. Disertasi, Program Pasca Sarjana Unair, Surabaya.
Soekarman R, 1992. Enersi dan Sistem Enersi Predominan pada Olahraga, Jakarta; Koni Pusat, hal. 38.
Viru A and Smirnova T, 1995. Health Promotion Exercise Training. Sport Med. 19(2), pp. 123-136.