Senin, 07 Oktober 2013

SISTEM MEDIS Sistem Perawatan Kesehatan

PENANGANAN CIDERA OLAH RAGA



 Drs. Santika Rentika Hadi, M.Kes.

     PENDAHULUAN
Kesehatan adalah suatu hak asasi manusia, bahwa meningkatkan derajad kesehatan setinggi mungkin merupakan tujuan social yang penting. Oleh karena itu rakyat di setiap negara memiliki hak dan kewajiban untuk berperan serta atau berpartisipasi social, baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan mereka. Apabila upaya yang dilakukannya berhasil maka derajad kesehatan akan meningkat dan semua orang mencapai kesehatan yang memungkinkan untuk hidup produktif, baik di bidang social maupun ekonomi.
Keberhasilan upaya pelayanan kesehatan tidak lepas dari pendekatan antropologi yang mendasar, dengan menggantungkan kepada sistemnya. Suatu ‘sistem’ yang diartikan sebagai agregasi atau pengelompokan objek-objek yang dipersatukan oleh beberapa bentuk interaksi yang tetap atau saling tergantung, sekelompok unit yang berbeda, yang dikombinasikan sedemikian rupa oleh alam atau oleh seni sehingga membentuk suatu keseluruhan yang integral, dan berfungsi, beroperasi atau bergerak dalam kesatuan. Dalam antropologi yang dimaksud ‘keseluruhan integral’ adalah system social budaya atau kebudayaan, dalam ekologi ‘keseluruhan integral’ adalah suatu ekosistem.
            Pada kenyatannya lokalitas kesatuan-kesatuan masyarakat pada umumnya, perawatan kesehatan  mencakup 3 (tiga) sector, dimana satu dengan yang lainnya berada dalam hubungan tumpang tindih (saling beririsan), yaitu : Umum, Kedukunan (folk), Profesional (cosmopolitan dan regional). Ketiga sector ini dapat berinteraksi antara satu system dengan system yang lainnya merupakan perwujudan kejamakan system-sistem medis yang umumnya dijumpai pada kesatuan-kesatuan social di negara berkembang
            Lebih lanjut  akan dicoba mengulas fenomena kehidupan social masyarakat jawa pada umumnya dalam menghadapi permasalahan cidera ragawi akibat aktivitas olah raga yang disebabkan oleh benturan maupun rudapaksa, yang paling tidak berakibat luka-luka,  terkilir, dislokasi persendian, ataupun sampai pada fraktur tulang. Pembahasan ini akan dibatasi pada system medis yang menyangkut system pelayanan kesehatan dengan cakupan umum, kedukunan, maupun professional.

       PEMBAHASAN
       Cidera Olah Raga
Aktifitas olah raga dapat memberikan efek positif berupa kesehatan dan kebugaran pada pelakunya. Namun dapat pula memberikan dampak negative berupa cidera karena aktifitas olah raga tersebut. Beberapa pilihan aktvitas olah raga memiliki factor resiko yang berbeda-beda. Beberapa aktivitas olah raga dapat sangat berpeluang memberikan dampak cidera. Olah raga yang memiliki factor kemungkinan cidera lebih besar, dapat ditandai dengan bentuk aktivitasnya yang meledak-ledak (dengan power besar), body contac, membutuhkan kecepatan tinggi Sebagai contohnya olah raga dengan factor cidera tinggi diantaranya : permainan sepak bola, bola basket, bela diri (pencak silat, karate, taekwondo, kempo dan lain-lainnya). Cabang olah raga yang lain bukan berarti tanpa factor resiko cidera, hampir semua cabang olah raga memiliki factor resiko cidera.
Cidera olah raga yang sering terjadi : luka-luka, salah urat, dis lokasi sendi, patah tulang, over training. Dalam menanggapi kejadian cidera ini, olah ragawan, pelatih / Pembina, orang tua (senior) dalam kultur social jawa sangat masih bervariasi, dari melalui perawatan sendiri, perawatan perdukunan, maupun perwatan professional dan birokrasi.    
      Sistem Perawatan Umum pada Cidera Olah Raga
Sistem perawatan umum (popular sector) dalam lingkup social cenderung selalu menjadi bagian terbesar dari sektor-sektor lainnya. Sumber perawatan ini dikenal sebagai selftreatment  atau home remidies lebih condong disediakan untuk pengobatan penyakit atau gangguan kesehatan yang oleh penderita atau keluarganya dianggap ringan. Kenyataannya menunjukkan pentingnya system ini melebihi system-sistem perawatan lainnya adalah karena peranannya sebagai pengobatan pembantu bagi penderita-penderita yang menjalani perawatan pada salah satu sektor lainnya, baik dukun maupun praktisi kedokteran atau professional lainnya. Dengan kata lain, fungsi system perawatan umum adalah sebagai perawatan utama maupun sebagai perawatan pembantu.
Sistem ini memiliki kompleks pengetahuan, kepercayaan, nilai, aturan (umum dan adat istiadat) dan praktek yang dipergunakan dalam mengamati symptom-simptom, mendiagnosa gangguan esehatan dan memutuskan pengobatan, dalam mencegah atau menjaga diri dari berbagai gangguan kesehatan baik yang berbentuk kodrat maupun adikodrati. Dalam  system ini latar interaksi adalah keluarga.  Berbeda dengan system perawatan kesehatan lainnya, system ini tidak mengenal adanya kedudukan praktisi yang memiliki pengetahuan/ketrampilan medis khusus seperti dukun dan yang sejenisnya (sangkal putung misalnya) ataupun praktisi kedokteran atau professional lainnya. Disini pengambilan eputusan medis berlangsung dalam jaringan social tertentu dengan seorang atau beberapa orang yang dianggap berwenang penuh untuk menentukan keputusan akhir atau pelaksanaan perawatan. Proses pengambilan keputusan dalam jaringan social seperti ini pula yang dijalankan manakala si penderita dianggap perlu untuk dibawa kepada seorang dukun atau praktisi kedokteran tertentu.
Pada terjadinya cidera olah raga ringan yang berupa luka-luka ringan, salah urat, kecapaian yang berlebih, penanganan cidera sering kali masih dengan system umum. Luka-luka ringan misalnya, pelaku olah raga/ pelatih/ orang tua masih menganggap cukup dengan merawatnya sendiri di rumah. Pilihan alternative obat dilingkungan masyarakat desa masih mengenal pengobatan dengan lender bekicot, lender batang pisang dan lain-lain. Pada cidera kecapaian yang berlebihan mengakibatkan badan lemas, lesu, pilihan alternative obat dilingkungan masyarakat dengan menelan telur ayam kampong, meminum air madu dan lain-lain.
Perawatan umum ini setidaknya dapat memberikan keberhasilan perawatan kesehatan, namun yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa perawatan yang sifatnya umum ini dapat memiliki kelemahan dalam akurasi taraf pemulihan, dan efek higienis dari pengobatan.    
        Sistem Perawatan Kedukunan Pada Cidera Olah Raga
Sektor system perawatan kedukunan (non professional dan non birokratis) adalah merupakan system dengan kontek religi pribumi pada suku-suku bangsa non Barat, ‘primitif’, dan pedesaan. Kedudukan atau system medis kedukunan, tradisional/pribumi dengan  bentuk-bentuk  yang kodrati maupun adi kodrati dari segi-segi etiologi, terapi dan frekwensi penyakit, jasmani maupun jiwa.
Dalam system perawatan ini factor keyakinan dan sugesti lebih mendominasi. Pada kenyataannya masyarakat jawa, khususnya di pedesaan masih banyak yang melakukannya. Pengobatan dengan air putih melalui do’a dan jampi-jami yang system pengobatannya tidak dapat dijelaskan melalui metode ilmiah. Reposisi dislokasi sendi, bahkan fraktura tulang dilakukan hanya dengan mengusap-usap si penderita, masih ditemui pada masyarakat pedesaan.
Sistem perawatan kedukunan ini pada kenyataannya dapat memberikan pemulihan pada kasus cidera olah raga. Yang perlu dipertimbangkan bahwa beberapa kasus cidera, dengan tanpa diberikan perlakuanpun akan mengalami pemulihan, maka dengan bantuan system perdukunan yang memberikan sugesti akan lebih memperlancar penyembuhan. Namun demikian validitas pemulihan tidaklah dapat dipertanggungjawabkan.  Kasus fraktura dengan system perawatan kedukunan misalkan, secara pandangan luar cidera telah mengalami kesembuhan, namun masih mengandung factor resiko yang tinggi untuk fraktur kembali, karena penyambungan yang sebenarnya tidak sempurna.

        Sistem Perawatan Profesional Pada Cidera Olah Raga
Perawatan yang terorganisasi dengan berbagai pranata pelayanan kesehatan. Seperti yang terdapat di semua negara di dunia ini, profesi ini dikenal sebagai system medis formal, modern, ilmiah, dan kosmopilitan, atau kedokteran modern. Di samping itu, tergolong pula dalam sector ini, antara lain adalah system tradisional kodrati yang berkembang dalam kebudayaan dan peradaban Cina dan system medis Ayurveda yang berkembang dalam kebudayaan-kebudayaan dan peradaban India. Begitu juga system medis Galanik-Arabik yang berkembang di negara-negara Arab tertentu. Ketiga system medis non kedoktera modern ini mengembangkan proses profesionalisme yang dijalankan dalam profesi kedokteran modern.
            Di dunia Barat cidera olah raga ditangani dengan system perawatan professional sehingga pemulihan dapat dipertanggung jawabkan, dapat diprediksi tentang waktu pemulihan sehingga olah ragawan dapat merencanakan program aktivitasnya.

       PENUTUP
Dalam penanganan cidera olah raga khususnya di tanah Jawa system perawatan medis yang terdiri dari tiga pengelomokan yaitu : Umum, Kedukunan (folk), Profesional (cosmopolitan dan regional), ketiganya masih mendapatkan tempat bagi para pelaku olah raga. System perawatan medis yang umum atau berdasarkan keluarga merupakan perawatan yang paling mendominasi terutama pada cidera-cidera ringan. Pada cidera berat perlu dipertimbangkan ketidak akuratan system perawatan umum dan kedukunan yang  dapat memberikan dampak buruk pada masa yang akan datang (jangka panjang).

              DAFTAR PUSTAKA

Brooks GA and Fahey TD, 1987. Exercise Physiology Human Bioenergetics and Its  Applications. New York : John Willey & Sons.

Foster, G.M. 1976, Medical Antropology and International Health Planning. MedicaAntropology
            Newsletter.  

Fox EL. Bowers RW and Fos ML, 1988. The Physiological Basis of Physical Education and Athletics. USA; Sounders College Publishing. 
Michael Winkelman, 2009, Culture and Health, Jossey Bass, USA

Viru A and Smirnova T, 1995. Health Promotion Exercise Training. Sport Med. 19(2).