PENDAHULUAN
Kesehatan
adalah suatu hak asasi manusia, bahwa meningkatkan derajad kesehatan setinggi mungkin
merupakan tujuan social yang penting. Oleh karena itu rakyat di setiap negara
memiliki hak dan kewajiban untuk berperan serta atau berpartisipasi social,
baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan mereka.
Apabila upaya yang dilakukannya berhasil maka derajad kesehatan akan meningkat
dan semua orang mencapai kesehatan yang memungkinkan untuk hidup produktif,
baik di bidang social maupun ekonomi.
Keberhasilan
upaya pelayanan kesehatan tidak lepas dari pendekatan antropologi yang
mendasar, dengan menggantungkan kepada sistemnya. Suatu ‘sistem’ yang diartikan
sebagai agregasi atau pengelompokan objek-objek yang dipersatukan oleh beberapa
bentuk interaksi yang tetap atau saling tergantung, sekelompok unit yang
berbeda, yang dikombinasikan sedemikian rupa oleh alam atau oleh seni sehingga
membentuk suatu keseluruhan yang integral, dan berfungsi, beroperasi atau
bergerak dalam kesatuan. Dalam antropologi yang dimaksud ‘keseluruhan integral’
adalah system social budaya atau kebudayaan, dalam ekologi ‘keseluruhan
integral’ adalah suatu ekosistem.
Pada
kenyatannya lokalitas kesatuan-kesatuan masyarakat pada umumnya, perawatan
kesehatan mencakup 3 (tiga) sector,
dimana satu dengan yang lainnya berada dalam hubungan tumpang tindih (saling
beririsan), yaitu : Umum, Kedukunan (folk), Profesional (cosmopolitan dan
regional). Ketiga sector ini dapat berinteraksi antara satu system dengan
system yang lainnya merupakan perwujudan kejamakan system-sistem medis yang
umumnya dijumpai pada kesatuan-kesatuan social di negara berkembang
Lebih
lanjut akan dicoba mengulas fenomena
kehidupan social masyarakat jawa pada umumnya dalam menghadapi permasalahan cidera
ragawi akibat aktivitas olah raga yang disebabkan oleh benturan maupun rudapaksa,
yang paling tidak berakibat luka-luka, terkilir,
dislokasi persendian, ataupun sampai pada fraktur tulang. Pembahasan ini akan
dibatasi pada system medis yang menyangkut system pelayanan kesehatan dengan
cakupan umum, kedukunan, maupun professional.
PEMBAHASAN
Cidera Olah Raga
Aktifitas
olah raga dapat memberikan efek positif berupa kesehatan dan kebugaran pada
pelakunya. Namun dapat pula memberikan dampak negative berupa cidera karena
aktifitas olah raga tersebut. Beberapa pilihan aktvitas olah raga memiliki
factor resiko yang berbeda-beda. Beberapa aktivitas olah raga dapat sangat
berpeluang memberikan dampak cidera. Olah raga yang memiliki factor kemungkinan
cidera lebih besar, dapat ditandai dengan bentuk aktivitasnya yang
meledak-ledak (dengan power besar), body contac, membutuhkan kecepatan tinggi
Sebagai contohnya olah raga dengan factor cidera tinggi diantaranya : permainan
sepak bola, bola basket, bela diri (pencak silat, karate, taekwondo, kempo dan
lain-lainnya). Cabang olah raga yang lain bukan berarti tanpa factor resiko
cidera, hampir semua cabang olah raga memiliki factor resiko cidera.
Cidera
olah raga yang sering terjadi : luka-luka, salah urat, dis lokasi sendi, patah
tulang, over training. Dalam menanggapi kejadian cidera ini, olah ragawan,
pelatih / Pembina, orang tua (senior) dalam kultur social jawa sangat masih
bervariasi, dari melalui perawatan sendiri, perawatan perdukunan, maupun
perwatan professional dan birokrasi.
Sistem Perawatan Umum pada Cidera
Olah Raga
Sistem
perawatan umum (popular sector) dalam lingkup social cenderung selalu menjadi
bagian terbesar dari sektor-sektor lainnya. Sumber perawatan ini dikenal
sebagai selftreatment atau home
remidies lebih condong disediakan untuk pengobatan penyakit atau gangguan
kesehatan yang oleh penderita atau keluarganya dianggap ringan. Kenyataannya
menunjukkan pentingnya system ini melebihi system-sistem perawatan lainnya
adalah karena peranannya sebagai pengobatan pembantu bagi penderita-penderita
yang menjalani perawatan pada salah satu sektor lainnya, baik dukun maupun
praktisi kedokteran atau professional lainnya. Dengan kata lain, fungsi system
perawatan umum adalah sebagai perawatan utama maupun sebagai perawatan
pembantu.
Sistem ini
memiliki kompleks pengetahuan, kepercayaan, nilai, aturan (umum dan adat
istiadat) dan praktek yang dipergunakan dalam mengamati symptom-simptom,
mendiagnosa gangguan esehatan dan memutuskan pengobatan, dalam mencegah atau
menjaga diri dari berbagai gangguan kesehatan baik yang berbentuk kodrat maupun
adikodrati. Dalam system ini latar
interaksi adalah keluarga. Berbeda
dengan system perawatan kesehatan lainnya, system ini tidak mengenal adanya
kedudukan praktisi yang memiliki pengetahuan/ketrampilan medis khusus seperti
dukun dan yang sejenisnya (sangkal putung misalnya) ataupun praktisi kedokteran
atau professional lainnya. Disini pengambilan eputusan medis berlangsung dalam
jaringan social tertentu dengan seorang atau beberapa orang yang dianggap
berwenang penuh untuk menentukan keputusan akhir atau pelaksanaan perawatan.
Proses pengambilan keputusan dalam jaringan social seperti ini pula yang
dijalankan manakala si penderita dianggap perlu untuk dibawa kepada seorang
dukun atau praktisi kedokteran tertentu.
Pada
terjadinya cidera olah raga ringan yang berupa luka-luka ringan, salah urat, kecapaian
yang berlebih, penanganan cidera sering kali masih dengan system umum.
Luka-luka ringan misalnya, pelaku olah raga/ pelatih/ orang tua masih
menganggap cukup dengan merawatnya sendiri di rumah. Pilihan alternative obat
dilingkungan masyarakat desa masih mengenal pengobatan dengan lender bekicot,
lender batang pisang dan lain-lain. Pada cidera kecapaian yang berlebihan
mengakibatkan badan lemas, lesu, pilihan alternative obat dilingkungan
masyarakat dengan menelan telur ayam kampong, meminum air madu dan lain-lain.
Perawatan
umum ini setidaknya dapat memberikan keberhasilan perawatan kesehatan, namun
yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa perawatan yang sifatnya umum ini dapat
memiliki kelemahan dalam akurasi taraf pemulihan, dan efek higienis dari
pengobatan.
Sistem Perawatan Kedukunan Pada Cidera Olah
Raga
Sektor system
perawatan kedukunan (non professional dan non birokratis) adalah merupakan
system dengan kontek religi pribumi pada suku-suku bangsa non Barat,
‘primitif’, dan pedesaan. Kedudukan atau system medis kedukunan,
tradisional/pribumi dengan bentuk-bentuk
yang kodrati maupun adi kodrati dari
segi-segi etiologi, terapi dan frekwensi penyakit, jasmani maupun jiwa.
Dalam system
perawatan ini factor keyakinan dan sugesti lebih mendominasi. Pada kenyataannya
masyarakat jawa, khususnya di pedesaan masih banyak yang melakukannya.
Pengobatan dengan air putih melalui do’a dan jampi-jami yang system
pengobatannya tidak dapat dijelaskan melalui metode ilmiah. Reposisi dislokasi
sendi, bahkan fraktura tulang dilakukan hanya dengan mengusap-usap si
penderita, masih ditemui pada masyarakat pedesaan.
Sistem
perawatan kedukunan ini pada kenyataannya dapat memberikan pemulihan pada kasus
cidera olah raga. Yang perlu dipertimbangkan bahwa beberapa kasus cidera,
dengan tanpa diberikan perlakuanpun akan mengalami pemulihan, maka dengan
bantuan system perdukunan yang memberikan sugesti akan lebih memperlancar
penyembuhan. Namun demikian validitas pemulihan tidaklah dapat
dipertanggungjawabkan. Kasus fraktura
dengan system perawatan kedukunan misalkan, secara pandangan luar cidera telah
mengalami kesembuhan, namun masih mengandung factor resiko yang tinggi untuk
fraktur kembali, karena penyambungan yang sebenarnya tidak sempurna.
Sistem Perawatan Profesional Pada
Cidera Olah Raga
Perawatan
yang terorganisasi dengan berbagai pranata pelayanan kesehatan. Seperti yang
terdapat di semua negara di dunia ini, profesi ini dikenal sebagai system medis
formal, modern, ilmiah, dan kosmopilitan, atau kedokteran modern. Di samping
itu, tergolong pula dalam sector ini, antara lain adalah system tradisional
kodrati yang berkembang dalam kebudayaan dan peradaban Cina dan system medis
Ayurveda yang berkembang dalam kebudayaan-kebudayaan dan peradaban India.
Begitu juga system medis Galanik-Arabik yang berkembang di negara-negara Arab
tertentu. Ketiga system medis non kedoktera modern ini mengembangkan proses
profesionalisme yang dijalankan dalam profesi kedokteran modern.
Di
dunia Barat cidera olah raga ditangani dengan system perawatan professional
sehingga pemulihan dapat dipertanggung jawabkan, dapat diprediksi tentang waktu
pemulihan sehingga olah ragawan dapat merencanakan program aktivitasnya.
PENUTUP
Dalam penanganan cidera
olah raga khususnya di tanah Jawa system perawatan medis yang terdiri dari tiga
pengelomokan yaitu : Umum, Kedukunan (folk), Profesional (cosmopolitan dan
regional), ketiganya masih mendapatkan tempat bagi para pelaku olah raga.
System perawatan medis yang umum atau berdasarkan keluarga merupakan perawatan
yang paling mendominasi terutama pada cidera-cidera ringan. Pada cidera berat
perlu dipertimbangkan ketidak akuratan system perawatan umum dan kedukunan
yang dapat memberikan dampak buruk pada
masa yang akan datang (jangka panjang).
Brooks GA and Fahey TD, 1987. Exercise Physiology Human
Bioenergetics and Its Applications. New
York : John Willey & Sons.
Foster, G.M. 1976, Medical Antropology
and International Health Planning. MedicaAntropology
Newsletter.
Fox
EL. Bowers RW and Fos ML, 1988. The Physiological Basis of Physical Education
and Athletics. USA; Sounders College Publishing.
Michael Winkelman, 2009, Culture and
Health, Jossey Bass, USA
Viru
A and Smirnova T, 1995. Health Promotion Exercise Training. Sport Med. 19(2).