(Drs. Santika Rentika Hadi, M.Kes.)
Pendahuluan
Penyakit
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit degeneratif yang diperkirakan
terus mengalami peningkatan prevalensinya. Negara berkembang seperti
Indonesia yang terus berupaya meningkatkan kemakmurannya dapat
berakibat diiringi dengan peningkatan prevalensi Diabetes Melitus.
Berkembagnya suatu Negara yang diikuti dengan peningkatan pendapatan
perkapita dan perubahan gaya hidup menyebabkan peningkatan prevalensi
penyakit degenerative, seperti penyakit jantung koroner, hipertensi,
hiperlipidemia, diabetes dan lain-lain. Komunikasi yang lebih baik
dengan masyarakat barat, memungkinkan terjadinya adopsi cara kehidupan
orang barat. Perubahan gaya hidup itulah yang akan diikuti oleh
penyakit degenerative diantaranya diabetes melitus.
Secara umum Diabetes Melitus (DM) adalah suatu kumpulan gejala yang
timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan
kadar glukosa darah akibat penurunan sekresi insulin yang progresif,
dengan dilatar belakangi oleh resistensi insulin (kualitas insulin
tidak baik/kurangnya respon reseptor terhadap insulin). Dalam proses
metabolisme, zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses kimia
yang rumit dengan hasil akhir timbulnya energy. Dalam proses tersebut
hormon insulin yang dikeluarkan oleh sel beta dalam pankreas, memegang
peranan yang sangat penting, yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam
sel, dan selanjutnya untuk digunakan sebagai bahan bakar. Dalam keadaan
normal dimana kadar insulin mencukupi dan sensitif, insulin akan
ditangkap oleh reseptor insulin yang ada pada permukaan sel otot,
kemudian membuka pintu masuk sel sehingga glukosa dapat masuk sel untuk
kemudian dibakar menjadi energi. Dalam kondisi ini kadar glukosa darah
normal. Seseorang dalam keadaan Diabetes Melitus (DM) didapatkan jumlah
insulin yang kurang atau pada keadaan kualitas insulin yang tidak baik
(resistensi insulin), mengakibatkan sel tidak dapat terbuka / tetap
tertutup sehingga glukosa tidak dapat memasuki sel untuk dimetabolisme.
Akibatnya glukosa tetap berada di luar sel, hingga kadar glukosa dalam
darah meningkat. Insulin dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang
dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel, kemudian glukosa
dimetabolismekan menjadi energi atau tenaga. Apabila peran insulin ini
terganggu karena insulin tidak ada (karena adanya reaksi otoimun), maka
terjadilah pathogenesis Diabetes Militis Tipe 1 (DM Tipe 1). Atau
terjadi kinerja insulin tidak baik seperti dalam keadaan resistensi
insulin (kualitas insulinnya tidak baik), maka terjadilah pathogenesis
Diabetes Militus Tipe 2 (DM Tipe 2). Diabetes Melitus diketahui sebagai
penyakit keturunan, dalam arti bila orang tuanya menderita diabetes,
maka anak-anaknya akan menderita diabetes juga. Akan tetapi faktor
keturunan saja tidak cukup untuk memunculkan penyakit tersebut,
diperlukan faktor lain yang disebut faktor risiko atau faktor pencetus
misalnya, adanya infeksi virus (pada DM tipe1), kegemukan, pola makan
yang salah (diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat), minum
obat-obatan yang dapat menaikkan kadar glukosa darah, proses menua,
kurang gerak badan (inactivity), stress dan lain lain. Kurang gerak
merupakan salah satu faktor resiko atau faktor pencetus Diabetes
Melitus (DM), salah satu untuk pemenuhannya dengan melakukan olah raga.
Olah raga teratur akan bermanfaat dalam pemekaan insulin. Namun pada
penderita Diabetes Melitus (DM) pengendalian gula darah tidak akan
berhasil dengan berolah raga saja, tetapi perlu dipadu dengan
pengaturan diet secara akurat dan obat. Apa, untuk apa, bagaimana olah
raga dilakukan oleh seseorang untuk menghadapi pencegahan maupun
mengontrol penyakit diabetes merupakan suatu hal yang penting untuk
dimengerti.
Usaha Pencegahan Diabetes Melitus (DM)
Usaha pencegahan penyakit Diabetes Melitus (DM)
terdiri dari : Pencegahan primer yaitu pencegahan agar tidak timbul
penyakit Diabetes Melitus (DM),
Pencegahan skunder yaitu pencegahan terjadinya kesulitan lebih lanjut
karena adanya penyakit Diabetes Melitus (DM), yang dapat berupa
terjadinya stoke karena gangguan pembuluh darah otak, terjadi kebutaan
karena gangguan pembuluh darah mata, penyakit jantung koroner karena
gangguan pembuluh darah jantung, terjadinya penyakit ginjal kronik
karena gangguan pembuluh darah ginjal, terjadinya sukar sembuh bila
luka karena gangguan pada pembuluh darah pada kaki. Pencegahan tersier
yaitu pencegahan agar tidak terjadi kecacatan lebih lanjut walaupun
sudah terjadi kesulitan lebih lanjut akibat penyakit Diabetes Melitus
(DM). Faktor yang mempengaruhi terjadinya Diabetes Melitus (DM) adalah
: faktor keturunan, faktor kegiatan jasmani yang kurang, faktor
kegemukan / distribusi lemak, faktor nutrisi berlebih, faktor
psikologi, dan faktor-faktor lain. Faktor keturunan merupakan faktor
yang tidak dapat diubah, tetapi faktor lingkungan (kegemukan, kegiatan
jasmani, nutrisi berlebih, faktor psikologi) merupakan faktor yang
dapat diubah dan diperbaiki. Terlepas dari faktor yang lain pembahasan
selanjutnya lebih menitik beratkan mengenai pencegahan Diabetes Melitus
(DM) melalui aktivitas olah raga.
Usaha Pencegahan Primer Melalui Olah Raga
Secara
umum olah raga bermanfaat dalam meningkatkan stamina, meningkatkan daya
tahan jantung dan pernafasan, menurunkan berat badan, mengurangi lemak
tubuh, mengurangi risiko terkena penyakit degenerative, memberikan rasa
bahagia, mengurangi stress, meningkatkan system imunitas tubuh dan
lain-lain. Olah raga yang dinyatakan dapat mengurangi risiko terkena
penyakit degenerative diantaranya penyakit Diabetes Melitus (DM), telah
dibuktikan oleh beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa olah raga
dapat menghambat perkembangan toleransi glukosa terganggu (TGT)
berkembang menjadi DM tipe 2. Pada saat seseorang berolah raga, energy
pertama yang akan digunakan adalah ATP-PC pada otot, dilanjutkan dengan
penggunaan cadangan glikogen otot, selanjutnya menggunakan glukosa di
mana tubuhnya akan merespon dengan melepaskan hormone yang akan
menaikkan dan menjaga level glukosa darah. Pada kurun waktu tertentu
relative suplai glukosa disediakan dari simpanan glikogen otot dan
glikogen hati. Aktivitas dalam waktu yang lama menjadikan sumber energy
utamanya adalah asam lemak bebas, yang berasal dari lipolisis jaringan
adipose. Perubahan pengaturan hormone pada saat berolah raga tergantung
pada durasi dan intensitas olah raganya. Dampak olah raga secara akut
akan menurunkan glukosa darah, dan segera menggantikan
(superkompensasi) pada saat istirahat (fase pemulihan). Dampak secara
kronik dari latihan olah raga akan meningkatkan homeostasis glukosa dan
sensitivitas insulin mengikuti aktivitas olah raga dengan bahan bakar
utama glukosa. Adaptasi pada sensitivitas insulin ini menghambat
resistensi insulin sehingga menghambat timbulnya potensi diabetes
melitus. Terdapat beberapa kondisi awal seseorang berhubungan dengan
aktivitas olah raga. Seseorang yang tidak pernah melakukan latihan olah
raga, seseorang yang acap kali melakukan aktivitas olah raga (berolah
raga dengan tidak teratur), seseorang yang melakukan latihan olah raga
teratur dengan frekwensi dan intensitas rendah sampai sedang, dan
seseorang dengan latihan olah raga dengan level tinggi (atlet). Semua
kondisi tersebut memiliki risiko terkena penyakit Diabetes Melitus (DM)
seiring dengan bertambahnya usia dan perubahan aktivitas yang
dilakukannya. Penghentian terhadap pelaksanaan aktivitas olah raga
secara mendadak dan dalam jangka waktu yang lama (detraining) bagi
seorang yang terlatih atau orang yang semula rutin berolahraga, akan
dapat memiliki risiko penyakit Diabetes Melitus (DM). Demikian juga
pada seseorang yang memang tidak terlatih dalam menjalani masa
bertambahnya usia akan memiliki risiko penyakit Diabetes Melitus (DM).
Penghentian latihan (detraining), maupun kondisi tidak terlatih sejak
awal didukung dengan prilaku gaya hidup yang tidak sehat dan faktor
pencetus yang lain, akan memiliki risiko penyakit Diabetes Melitus (DM)
yang tinggi. Dari beberapa kondisi awal seseorang, pada prinsipnya
usaha pencegahan terhadap penyakit Diabetes Melitus (DM) adalah melalui
kemampuan beradaptasi menuju aktivitas berolah raga yang rutin sesuai
dengan kapasitas awalnya dalam menjalani hidup seiring bertambahnya
usia. Seiring bertambahnya usia perubahan menjadi melaksanakan olah
raga secara rutin yang proporsional adalah hal penting, bagi seorang
yang awalnya tidak pernah berolahraga harus mampu meningkatkan secara
halus dan pelan menuju pelaku olah raga. Bagi seorang yang awalnya
adalah atlet harus mampu menurunkan secara halus dan pelan menuju
pelaku olah raga dengan proporsional. Olah raga yang diharapkan
dilakukan adalah olah raga yang terukur, teratur, terkendali dan
berkesinambungan. Percobaan mengenai pencegahan primer DM melalui diet,
olah raga, dan diet diikuti olah raga diasosiasikan sama-sama dapat
menurunkan faktor resiko diabetes. Semakin bertambahnya usia,
dipertimbangkan untuk tidak melakukan olah raga pertandingan, sebab
akan dapat terjadinya ‘overexertion’ yang melampaui batas kemampuan
hingga berakibat kurang baik. Olah raga yang dianjurkan adalah untuk
mempertahankan stamina (endurance) dan olahraga untuk mempertahankan
kelentukan. Frekuensi latihan
3 kali dalam seminggu, dengan lama latihan kira-kira 20 menit sampai
dengan 60 menit, semakin bertambah usia intensitas latihan semakin
rendah..
Olah Raga pada Penderita Diabetes Militus Tipe 1
Penderita
Diabetes Militus Tipe 1 memiliki kadar insulin rendah, karena kurang
atau tidak adanya produksi insulin oleh pancreas. Sehingga diabetisi
mudah mengalami hipoglikemia selama dan segera pada saat berolah raga,
karena hepar gagal untuk melepaskan glukosa sesuai dengan laju
kebutuhan. Diabetisi pada tipe ini memiliki pengaturan glukosa darah
yang variatif pada saat latihan yang sifatnya sangat individual. Olah
raga tidak banyak berpengaruh terhadap glicemic control pada diabetisi
tipe 1, tapi olah raga dapat bermanfaat dalam mengurangi risiko
penyakit jantung, gangguan pembuluh darah perifer, dan syaraf.
Olah Raga pada Penderita Diabetes Militus Tipe 2
Penderita DM tipe 2 resistensi insulin tinggi, sehingga insulin tidak
dapat membantu transfer glukosa ke dalam sel. Olah raga yang terdiri
dari rangkaian kontraksi otot menjadikan sifat seperti insulin
(insulin-like effect). Sehingga otot yang berkontraksi memiliki
permiabilitas membrane terhadap glukosa meningkat. Pada saat berolah
raga resistensi insulin berkurang, sedangkan sensitivitas insulin
meningkat, kondisi ini akan menyebabkan kebutuhan insulin pada
diabetisi tipe 2 akan berkurang. Respon ini hanya terjadi pada saat
berolah raga, bukan merupakan efek yang menetap atau berlangsung lama,
oleh karena itu olah raga harus dilakukan secara terus menerus dan
teratur.
Olah Raga yang Efektif untuk Penderita Diabetes Militus
Sama halnya dengan pelaku olah raga normal, penderita diabetes harus
melihat kondisi sebelumnya. Program latihan olah raga harus mengacu
pada pemeriksaan awal oleh dokter, berkaitan dengan keadaan kadar
glukosa darah, keadaan kemampuan kardiovaskuler, dan kondisi sebelumnya
sebagai olahragawan atau sedentary. Diabetisi sebaiknya tidak melakukan
program olah raga pada saat kondisi sakit, sesak nafas, pusing, tekanan
darah tidak normal, lemas, mata kabur, nyeri pada dada, leher, bahu dan
rahang. Olah raga yang diharapkan dilakukan adalah olah raga yang
terukur, teratur, terkendali dan berkesinambungan. Untuk dapat
dikatakan terukur maka olah raga yang dilakukan adalah yang dapat
memenuhi prinsip FITT (Frekuensi, Intensitas, Time / durasi, dan Tipe /
jenis). Frekuensi (jumlah olahraga per minggu) yang dianjurkan adalah 3
– 5 kali per minggu. Intensitas yang dianjurkan ringan hingga sedang
yaitu sebesar 50 % – 70 % MHR (Maximum Heart Rate). Dengan Time /
Durasi yang dianjurkan antara 30 – 60 menit. Jenis latihan olah raga
adalah aerobik (endurance) untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi
seperti berjalan, bersepeda, berenang dan senam. Bagi yang telah lanjut
usia bila ingin bersepeda sebaiknya menggunakan sepeda statis. Untuk
menentukan intensitas latihan, sebagai pedoman adalah Maximum Heart
Rate (MHR) dengan rumus MHR = 220 – Usia. Sebagai contoh seorang
berusia 45 tahun yang ingin menjaga kondisinya dengan intensitas
latihan antara 50% hingga 70% dari MHR, maka Target Heart Rate (THR)
latihan berada pada (220 – 45) x 60 % = 175 x 50% = 88 denyut / menit,
hingga (220 – 45) x 70 % = 175 x 70 % = 123 denyut / menit. Dengan
demikian maka orang tersebut dalam berolahraga mengontrol denyut
nadinya selama latihan dalam rentangan 88 denyut/menit hingga 123
denyut/menit. Target Heart Rate (THR) ini bersifat umum, namun secara
individual menyesuaikan kondisi awal seseorang memulai latihan, apakah
orang tersebut atlet, atau sedentary. Olah raga yang teratur dan
berkesinambungan ialah latihan olah raga yang dilakukan terus menerus
sepanjang hidup sesuai kemampuannya. Sedangkan yang dimaksud dengan
olah raga terkendali adalah olah raga yang dilakukan bila kondisi
kesehatan terkontrol dengan baik. Memperhatikan urutan pelaksanaan olah
raga dengan baik yang berisikan pemanasan (warm up), latihan inti dan
pendinginan (cooling down). Pembiasaan melaksanakan aktivitas olah raga
pada waktu yang sama tiap hari latihannya adalah hal yang perlu
diperhatikan juga. Dengan memperhatikan urutan pelaksanaan olah raga
tersebut diharapkan dapat mendapatkan manfaat yang maksimal dan
mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Bahaya Akibat
Berolahraga dan Pencegahannya pada Diabetisi Olah raga yang dilakukan
diabetisi tidak dengan bekal pemahaman yang baik dapat berdampak yang
kurang baik, hal ini dapat dicegah dengan langkah-langkah yang tepat.
Tabel berikut menyajikan bahaya olah raga bagi diabetisi dan upaya
pencegahannya :
Bahaya berolahraga bagi diabetisi dan Pencegahannya
Memperburuk gangguan metabolik
dicegah dengan : Menghindari olah raga berat, latihan beban,
olah raga kontak (bela diri) Berusaha agar
intake cairan cukup
Hipoglikemi akibat olah raga (exercise induced hypoglycemia) pada diabetisi tipe 1) dicegah dengan : Selalu monitor kadar glukosa darah
Menghindari pemberian insulin pada bagian
tubuh yang aktif (dapat diberikan di abdo-
men)
Kurangi dosis insulin dan tingkatkan intake
makanan pada waktu berolah raga
Hindari olah raga pada saat kadar insulin ber
ada pada puncaknya.
Perlu pemberian snack karbohidrat sebelum,
sedang, dan sesudah olah raga.
Lakukan olah raga secara teratur
Cepat tanggap pada gejala yang timbul
Gangguan pada kaki dicegah dengan : Kenakan sepatu yang sesuai
Kaki diusahakan selalu bersih dan kering
Komplikasi kardiovaskuler dicegah dengan : Perlu pemeriksaan medis sebelum berolah
Raga
Lakukan pemeriksaan EKG kerja
Program olah raga bersifat individual
Pemeriksaan laboratorium secara rutin
Cedera musculoskeletal
dicegah dengan : memilih olah raga yang tepat/sesuai Meningkatkan
intensitas latihan sedikit demi Sedikit dan bertahap Melakukan
pemanasan dan pendinginan Menghindari olah raga berat dan berlebihan
Olah raga yang dilakukan oleh diabetisi perlu adanya pengawasan yang
ketat dengan pengaturan diet dan pemberian obat secara baik. Untuk itu
seorang diabetisi harus memiliki kepekaan yang baik dari semua
aktivitasnya dikaitkan dengan gejala metabolik tubuhnya. Penggunaan
obat-obatan herbal secara berganti-ganti bukanlah cara yang baik, malah
dapat mengkacaukan metabolism tubuh yang mengarah pada kerusakan yang
lebih parah.
Penutup
Sebuah pertimbangan yang tepat untuk mensikapi pentingnya olah raga
bagi penderita diabetes militus dan sebagai upaya pencegahan yang baik.
Olah raga merupakan salah satu komponen dari 3 cara yang tepat dalam
penangan penyakit Diabetes Melitus (DM), yaitu diet, obat-obatan, dan
olah raga. Sebagai langkah pencegahan, olah raga dilakukan sesuai denga
kebutuhan individu, seorang sedentary perlu memulai dan meningkatkan
secara bertahap, bagi seorang olah ragawan (atlet) penurunan program
menyesuaikan kondisi usia, secara pelan dan bertahap. Penghentian
latihan (detraining) secara total dengan pola kebiasaan hidup yang
buruk, sangat berisiko berpenyakit diabetes mellitus, Sebagai upaya
pencegahan, dampak olah raga secara akut akan menurunkan glukosa darah,
dan segera menggantikan (superkompensasi) pada saat istirahat (fase
pemulihan). Dampak secara kronik dari latihan olah raga akan
meningkatkan homeostasis glukosa dan sensitivitas insulin mengikuti
aktivitas olah raga dengan bahan bakar utama glukosa. Adaptasi pada
sensitivitas insulin ini menghambat resistensi insulin sehingga
menghambat timbulnya potensi diabetes melitus. Bagi diabetisi tipe 1,
olah raga tidak banyak berpengaruh terhadap glicemic control, tapi olah
raga dapat bermanfaat dalam mengurangi risiko penyakit jantung,
gangguan pembuluh darah perifer, dan syaraf. Pada diabetisi tipe 2,
pada saat berolah raga resistensi insulin berkurang, sedangkan
sensitivitas insulin meningkat, kondisi ini akan menyebabkan kebutuhan
insulin berkurang. Respon ini hanya terjadi pada saat berolah raga,
bukan merupakan efek yang menetap atau berlangsung lama, oleh karena
itu olah raga harus dilakukan secara terus menerus dan teratur.
Daftar Pustaka
Arisman, 2008, Buku Ajar Ilmu Gizi, Obesitas, Diabetes Mellitus, & Dislipidemia,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Askandar TJ, 2006, Endokrin Metabolik Kapita Selekta Endokrinologi, Airlangga
University Pres Surabaya.
Bustan, 2007, Epidemologi Penyakit Tidak Menular, Rineka Cipta, Jakarta
Fit Facts, 2001, Exercise Type 1 Diabetes, American Council Exercise, San Diego.
Hopkins D, 2004, Exercise Induced and Other Daytime Hypoglycemic Events in Patients
with Diabetes: Prevention and Treatment, Denmark Hii, London.
Maiorana A, dkk, 2002, Combined Aerobic and Resistance Exercise Improves Glycemic
Control and Fitness in Type 2 Diabetes, Elsevier Science Ireland Ltd.
Mary B, dkk, 2005, Klien Gangguan Endokrin, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Masato, dkk, 2008, Effect of a Single Bout of Moderate Exercise on Glucose Uptake in
Type 2 Diabetes Mellitus, Journal of Cardiology, Japanese.
Nielson JP, dkk, 2006, Meta-Analysis of the Effect of Exercise Interventions on Fitness
Outcomes among Adults with Type 1 and Type 2 Diabetes, Diabetes Research and Clinical Practice 74, United States.
Pradan S, 2007, Hidup Sehat dengan Diabetes, Panduan Bagi Penyandang Diabetes,
Keluarganya dan Petugas Kesehatan, FKUI, Jakarta.
Riddle M, dkk, 2004, Type 1 Diabetes and Vigorous Exercise: Application of Exercise
Physiology Patient Management, Canadian Journal of Diabetes.
Sanz C, dkk, 2010, Physical Exercise for the Prevention and Treatment of Type 2
Diabetes, Diabetes & Metabolism 36, France.
Sheri R, dkk, 2006, The Impact of Exercise on Action in Type 2 Diabetes Mellitus:
Relationship to Prevention and Control, Excerplo Medica Inc.
Soekarman, 1987, Dasar Olah Raga Untuk Pembina Pelatih dan Atlet, Inti Idayu Press,
Jakarta.
Virginia.
Sidartawan S, dkk, 2011, Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu, Pusat Diabetes dan
Lipid RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo FKUI, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar