Penampilan
Gerak Pada Wanita Dalam Siklus Endometrium dan Menstruasi
Santika Rentika Hadi
Prodi Pendidikan
Kepelatihan Olahraga
FKIP Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Abstrak
Dalam siklus endometrium dan menstruasi terjadi beberapa
fase yaitu Menstrual Phase, Proliferative Phase, Secretaory Phase dan Ischemi
Phase. Pada Phase-phase tersebut terjadi perubahan-perubahan pencurahan hormone
sex (estrogen dan progesterone) yang
erat hubungannya dengan psikologi (stress dan emosi). Kondisi psikologi pada
siklus tersebut diduga mempengaruhi penampilan gerak seseorang, penampilan
gerak dalam ketrampilan gerak yang berarti kemampuan yang membawa hasil secara
maksimum dengan pasti mengeluarkan energi dan waktu yang minimum, Dalam
penelitian ini ingin mengungkap perbedaan penampilan gerak dalam berlari 200
meter pada phase yang ada dalam siklus endometrium dan menstruasi tersebut.
Didapatkan hasil uji statistik, bahwa penampilan gerak berupa lari 200 meter pada
keempat kelompok yaitu menstrual phase, proliferative phase, secretory phase,
dan ischemic phase tidak memiliki
perbedaan yang bermakna (sig > 0.05). Dengan demikian tidak terdapat
perbedaan penampilan gerak berupa waktu tempuh lari 200 meter pada seorang
wanita dalam kondisi menstrual phase, proliferative phase, secretory phase, dan
ischemic phase.
Kata Kunci : Penampilan Gerak, wanita, Siklus menstruasi
PENDAHULUAN
Pencapaian prestasi cabang olahraga wanita memiliki
kontribusi yang sama dengan kaum pria dalam mengangkat harkat dan martabat
daerah, wilayah atau Negara yang diwakilinya. Para pembina, pelatih dan
organisasi keolahragaan memfokuskan pembinaan pada cabang yang diikuti wanita
dengan pertimbangan persaingan yang tidak terlalu tinggi. Kondisi tersebut juga
memungkinkan upaya penyimpangan-penyimpangan
/ kecurangan dilakukan oleh pembina, pelatih maupun atlet. Untuk mencermati
terjadinya kecurangan dengan keikutsertaan pria dalam cabang olahraga yang
diikuti wanita, Komite Olimpiade Internasional memberlakukan pengawasan
kewanitaan melalui analisis kromosom. Adanya badan barr pada folikel rambut
memberi bukti kewanitaan secara cepat dan dapat dipercaya. Badan barr hanya
dalam folikel rambut wanita karena badan barr hanya dibentuk oleh kromosom X
yang kedua atau lebih, sedangkan pria
hanya memiliki satu kromosom X (Giam
CK, Teh KC, 1992).
Untuk menunjang prestasi
cabang olahraga yang diikuti wanita, berbagai kajian yang terkait sangat
diperlukan Pembina, pelatih maupun atlet. Wanita dalam gerak olahraga sangat
banyak resistan yang memberikan rentang dengan prestasi atlet pria. Problem
yang mewarnai gerak olahraga wanita diantaranya timbunan lemak yang lebih banyak
pada wanita, hormon, siklus endometrium dan menstruasi yang hanya dimikliki
kaum wanita. Salah satu problem kewanitaan adalah siklus endometrium dan menstruasi
yang memberikan berbagai perubahan psikologi maupun fisik bagi wanita yang
melaluinya. Menstruasi adalah
perdarahan periodik dari uterus yang dimulai sekitar 14 hari setelah ovulasi
secara berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus (Bobak, 2004).
Suzanne C (2001), mendeskripsikan siklus menstruasi adalah proses kompleks yang
mencakup reproduktif dan endokrin. Menurut Bobak (2004), Siklus menstruasi
merupakan rangkaian peristiwa yang secara kompleks saling mempengaruhi dan
terjadi secara simultan.
Dalam siklus endometrium dan menstruasi terjadi beberapa fase yaitu
Menstrual Phase, Proliferative Phase, Secretaory Phase dan Ischemi Phase. Pada
Phase-phase tersebut terjadi perubahan-perubahan pencurahan hormone sex (estrogen dan progesterone) yang erat
hubungannya dengan psikologi (stress dan emosi). Rasa nyaman dan tidak nyaman
(stabilitas emosi) tersebut akan berkaitan dengan penampilan seseorang dalam
melakukan kegiatan fisik / olahraga (
Kapit W. Macey RI. Meisami E, 1987 ). Sedangkan menurut Kent Michael (1994), Penampilan optimal wanita bervariasi antar
individu dalam phase menstruasi, beberapa wanita justru ada yang berpenampilan
baik selama menstruasi.
Penampilan seseorang dalam melakukan kegiatan fisik /
olahraga memiliki banyak faktor yang menjadi indicator kebaikan penampilannya.
Ada beberapa kwalitas fisik dasar yang akan menjadikan penampilan gerak
seseorang menjadi baik diantaranya : kekuatan, daya ledak, kelincahan,
kelentukan, daya tahan, ketepatan, kecepatan, stamina dan lainnya. Kondisi emosi akibat phase-phase endometrium
dan menstruasi yang terjadi diperkirakan mempengaruhi penampilan gerak, dalam
hal ini penampilan gerak merupakan ketrampilan gerak yang berarti kemampuan yang membawa hasil secara maksimum
dengan pasti mengeluarkan energi dan waktu yang minimum. Salah satu bentuk
penampilan seseorang yang lazim dijadikan patokan tingkat kesiapan penampilan
fisik seseorang adalah VO2 Max seseorang yang salah satunya dapat ditandai
dengan kemampuan seseorang melakukan lari selama 12 menit. Pencapaian kebugaran
fisik, akan mempengaruhi penampilan berlari seseorang, termasuk kemampuan
seseorang untuk berlari dalam jarak 200 meter.
Memperhatikan konsep diatas, bahwa phase-phase yang
terjadi dalam siklus menstruasi pada wanita akan membuat seorang wanita
mengalami perubahan stabilitas emosi yang dikaitkan dengan kemampuannya dalam
menunjukkan penampilan gerak, sementara dilain fihak berpendapat bahwa
penampilan optimal oleh seorang wanita tidak terpengaruh pada saat phase menstruasi, peneliti belum menemukan penelitian yang mengungkap
sampai pada phase endometrium yaitu
Proliferative Phase, Secretaory Phase dan Ischemi Phase, menjadi sangat menarik
untuk dikaji lebih mendalam menjadi sebuah penelitian. Sehingga muncul masalah “
Apakah terjadi perubahan kualitas penampilan gerak seorang wanita dalam
phase-phase endometrium dan menstruasi ?”.
Dengan munculnya masalah yang kemudian dibuktikan, maka dapat mengungkap
pengaruh phase-phase endometrium dan menstruase pada kesetabilan emosi seorang
wanita, sehingga dapat membekali seorang Pembina, pelatih maupun atlet dalam
menangani pencapaian penampilan gerak yang diinginkan. Dan mengetahui bahwa
masing-masing phase endometrium dan menstruasi memiliki dampak penampilan gerak
yang berbeda, sehingga dapat dijadikan acuan penepatan phase tertentu melalui
medis yang memiliki penampilan terbaik
dengan puncak pertandingan yang harus dilakukan.
MENSTRUASI DAN GERAK TUBUH
Menstrual Cycle adalah siklus dari kematangan sex pada
wanita, yang ditandai dengan runtuhnya darah dari dinding uterus, dengan
interval tiap bulanan (Kent Michael,
1994). Kondisi menstruasi dapat menandai kondisi kesehatan dan kondisi
suasana hati. Dapat memberikan informasi tentang status energy, resiko cidera
otot, input nutrisi, kondisi metabolism tubuh dan hormon, recovery dan kondisi lain yang merupakan wilayah puncak performance seorang wanita (Harber V, 2011). Menurut Guyton ( 1994 ), produksi berulang dari
estrogen dan progesteron oleh ovarium mempunyai kaitan dengan siklus
endometrium yang bekerja melalui tahapan berikut ini : pertama, proliferasi
dari endometrium uterus; kedua, perubahan sekretoris pada endometrium, dan
ketiga, deskuamasi dari endometrium, yang dikenal sebagai menstruasi.
Tahap
Proliferasi (tahap estrogen) dari siklus Endometrium. Pada permulaan setiap
siklus seksual bulanan, sebagian besar endometrium akan terdeskuamasi oleh
proses menstruasi. Hanya selapis tipis stroma endometrium yang tertinggal pada
bagian dasar endometrium semula. Permukaan endometrium akan terepitelialiasi
ulang dalam waktu tiga sampai tujuh hari sesudah menstruasi. Selama dua minggu
pertama dari siklus seksual, sampai ovulasi-endometrium bertambah tebal,
disebabkan bertambah banyaknya sel stroma dan karena pertumbuhan yang progresif
dari kelenjar endometrium serta pembuluh darah ke dalam endometrium. Pada saat
ovulasi, endometrium mempunyai ketebalan sekitar 3-4 mm. Pada saat ini, akan
tersekresi mucus yang encer mirip benang membentuk saluran sepanjang kanalis
servikalis yang akan membantu mengarahkan sperma menuju ke dalam uterus.
Tahap
Sekretorik (Tahap Progestasional) dari siklus endometrium. Selama sepuluh akhir siklus bulanan,
progesterone serta estrogen disekresi dalam jumlah yang besar oleh korpus
luteum. Sitoplasma dari sel stroma, dan pasokan darah ke dalam endometrium juga
bertambah sebanding dengan perkembangan aktivitas sekresi, sedangkan pembuluh
darah menjadi sangat berkelok-kelok. Pada akhir tahap ini ketebalan endometrium
menjadi 5-6 mm. Dalam tahap ini membentuk endometrium yang mengandung sejumlah
besar cadangan nutrient yang dapat membentuk kondisi yang cocok untuk penanaman
ovum yang sudah dibuahi, yang akhirnya membentuk persediaan nutrisi yang lebih
banyak bagi embrio.
Menstruasi,
Kira-kira dua hari sebelum akhir dari siklus bulanan, hormone-hormon ovarium, yaitu
estrogen dan progesterone berkurang sampai ke tingkatan yang rendah (Ischemic
Phase) dan diikuti dengan terjadinya menstruasi. Menstruasi disebabkan karena
penurunan mendadak dari estrogen dan progesterone pada akhir siklus ovarium
bulanan. Efek pertama adalah berkurangnya rangsang kedua hormone tersebut
terhadap sel-sel endometrium, yang diikuti dengan cepat oleh involusi dari
endometrium itu sendiri sampai sekitar 65 % dari ketebalan semula. Hilangnya
rangsang hormonal dilanjutkan dengan terjadinya vasospasme menyebabkan
dimulainya proses nekrosis pada endometrium, khususnya dari pembuluh darah di
stratum vaskularis. Sebagai akibatnya
darah akan merembas ke lapisan vascular dari endometrium, dan perdarahan akan
bertambah besar dalam waktu 24 – 36 jam.
Sekitar 48 jam setelah terjadinya menstruasi, semua lapisan superficial
dari endometrium sudah terdeskuamasi. Jaringan deskuamasi dan darah di dalam
kavitas uterus akan merangsang kontraksi uterus yang menyebabkan dikeluarkannya
isi uterus.
Menurut Kapit W, Macey RI, Meisami E (1987), Pada saat menstruasi, estrogen
menjadi rendah, kemudian terjadi perubahan rendah estrogen ke tinggi estrogen dalam phase proliferasi, pada phase
sekretorik terjadi estrogen dan progesterone yang tinggi. Perubahan-perubahan
ini mempengaruhi kondisi psikologis seseorang (stress dan emosi).
Sebaliknya
kondisi psikologis (stress dan emosi) juga dapat berpengaruh terhadap
ketidakteraturan siklus seksual wanita.
Eksperimen menunjukkan bahwa infuse estrogen pada wanita untuk periode
satu sampai tiga hari selama paruh pertama dari siklus ovarium menyebabkan
makin cepatnya pertumbuhan volikel dan juga mempercepat sekresi estrogen dari
ovarium (Guyton, 1994 ). Dengan infuse estrogen pada wanita dapat
menjadikan percepatan (pengaturan) menstruasi yang dapat digunakan Pembina,
pelatih dan atlet untuk mengatur phase yang dikehendaki dalam puncak
pertandingan yang dituju.
Kemampuan
seseorang untuk melaksanakan pekerjaan berat sehari-hari dengan mudah tanpa
merasa cepat lelah, dan masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk
menikmati waktu senggang atau untuk keperluan yang sewaktu-waktu dapat
digunakan. Orang yang memiliki kesegaran
jasmani yang baik, akan dapat menjalankan pekerjaan yang sukar atau berat
dengan hanya memerlukan waktu singkat, dibandingkan dengan orang yang kesegaran
jasmaninya termasuk kurang (Harisenjaya, 1993). Seseorang yang memiliki kesegaran
jasmani yang baik akan memiliki kesiapan melakukan berbagai tugas gerak yang
diperlukan menjadi lebih baik dibanding orang dengan kesegaran jasmani yang
buruk. Maka dengan mengetahui tingkat kesegaran jasmani seseorang akan dapat
menggambarkan kemampuan geraknya. Kesegaran jasmani yang baik akan mendukung
penampilan gerak yang baik dalam waktu yang lebih lama dibanding kesegaran
jasmani yang buruk.
Kesegaran jasmani mencakup tiga
aspek yaitu : 1. Kesegaran statis atau medis, yaitu keadaan kemampuan organ
tubuh seperti jantung dan paru; 2. Kesegaran dinamis atau fungsional, yaitu
tingkat keefektifan fungsional tubuh manusia sehubungan dengan gerak kerja
optimal; 3. Kesegaran ketrampilan gerak atau ketrampilan motori, yaitu tingkat
kemantapan koordinasi dan kekuatan dalam penampilan. Untuk dapat mengukur
kesegaran jasmani seseorang terdapat beberapa tes diantaranya : jalan cepat
4800 meter, tes lari lapangan 2400 meter, tes lari lapangan menempuh waktu
selama 12 menit, dan tes lari di tempat (Cooper.H, 1980).
Siklus
menstruasi dan endometrium adalah fenomena fisiologi yang komplek (Fox, 1993). Masing-masing individu
memiliki karakteristik yang berbeda. Terkait dengan penampilan olahraga wanita
lebih jauh Fox (1993) menyajikan
data bahwa seorang wanita mulai mengalami siklus menstruasi yang pertama pada
tahun-tahun yang berbeda mislkan : Non atlet pada umumnya pada tahun ke 12,29;
Perenang pada usia 13,4 th; Atlet lapangan tingkat Nasional pada usia
13,58; Pelari jarak jauh tingkat
nasional pada usia 14,10 dan Atlet bola voli olimpiade pada usia 14,18.
Ada anggapan bahwa potensi
olahragawan wanita dalam latihan menjadi lemah selama periode menstruasi. Penelitian
lain menyatakan bahwa respon-respon fisiologis terhadap olahraga sebelum siklus
haid sangat berbeda pada wanita yang berlainan.
Bukti lain menunjukkan bahwa kebanyakan wanita dapat berlatih dan
bertanding dengan normal selama menstruasi, namun beberapa wanita mengalami
penahanan cairan dan kejang perut sebelum menstruasi dan pada masa
berlangsungnya menstruasi (Kasio, 1993). Data lain yang ditunjukkan oleh Fox (1993) mengenai phase menstruasi
pada atlet sering bertepatan dengan masa latihan dan kompetisi sebagai berikut
:
Pada kondisi
latihan prosentase atlet dalam phase
menstruasi yang selalu berpartisipasi terdapat 34 %, yang kadang-kadang saja 54
% sedangkan yang tidak latihan pada saat menstruasi adalh 12 %. Sedangkan pada
kondisi kompetisi prosentase atlet dalam
phase menstruasi yang selalu berpartisipasi terdapat 69 %, yang kadang-kadang
saja 31 % sedangkan yang tidak latihan pada saat menstruasi adalh 0 %.
METODE
Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen
semu dengan menggunakan rancangan One Sample Randomized Research, perlakuan alamiah siklus kewanitaan
dipadukan dengan pengujian penampilan gerak berupa lari 200 meter, dilakukan
tiap siklus yang berjalan tiap 7 hari terjadi perubahan siklus. Sebagai
populasi dalam penelitian ini adalah siswa putri kelas 2 SMA ITP Surabaya, Jl.
Dukuh Menanggal XII Surabaya yang mengikuti ekstra kurikuler bola basket
sejumlah 20 siswi. Dari populasi yang ada diambil keseluruhannya sejumlah 20
siswi sebagai sampel.
Data mengenai
keadaan sampel dalam phase-phase menstruasi diperoleh melalui angket kepada
siswi sample. Sedangkan data tentang penampilan gerak diperoleh melalui
pelaksanaan tes lari lapangan menempuh jarak 200 meter kepada sample sebanyak 4
kali pengambilan data dengan rentang waktu satu minggu. Dari 20 siswi sample
setiap kali diadakan tes lari lapangan menempuh jarak 200 meter. diminta
memberi keterangan tentang posisi siklus menstruasinya.
Data tentang kondisi seorang
wanita dalam phase-phase menstruasi yang diperoleh melalui angket
dideskripsikan untuk difokuskan ditelaah kemudian dikaitkan dengan hasil perbedaan penampilan gerak pada seorang
wanita dalam phase-phase menstruasi. Data dari pelaksanaan tes lari lapangan
menempuh jarak 200 meter siswi sample
yang dilaksanakan pada tiap phase dalam
siklus endometrium dan menstruasi dicari ada atau tidaknya perbedaan melalui
perhitungan statistic melalui program
SPSS.
HASIL
Data yang telah
terkumpul ditabulasikan kemudian diproses dalam analisis statistic melalui
program SPSS. Hasil dari perbedaan antar kelompok antara penampilan fisik pada
kelompok menstrual phase, proliferative phase, secretory phase, dan ischemic
phase dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel
1
Hasil
statistik deskriptif berbagai kelompok
KELOMPOK
|
MEAN
|
SD
|
SE
|
Menstrual
Proliferatif
Secretory
Ischemi
|
51.4875
51.9680
51.3910
51.8865
|
5.01008
4.81059
5.13308
4.95826
|
1.12029
1.07568
1.14779
1.10870
|
Tabel
2
Hasil
Uji Anava Perbedaan Antar Kelompok menstrual phase, proliferative phase,
secretory phase, dan ischemic phase
KELOMPOK
|
MEAN
|
SD
|
ANAVA
|
|
F
|
SIG
|
|||
Menstrual
|
51.4875
|
5.01008
|
0.066
|
0.978
|
Proliferatif
|
51.9680
|
4.81059
|
||
Secretory
|
51.3910
|
5.13308
|
||
Ischemi
|
51.8865
|
4.95826
|
||
Menstrual
|
51.4875
|
5.01008
|
||
Proliferatif
|
51.9680
|
4.81059
|
||
Tabel 3
Hasil
Uji-t Perbedaan Antar Kelompok menstrual phase, proliferative phase, secretory
phase, dan ischemic phase
KELOMPOK
|
MEAN DIFFERENCE
|
t
|
SIG
|
Menstrual – Proliferatif
|
-0.48050
|
-0.978
|
0.340
|
Menstrual – Secretory
|
0.09650
|
0.235
|
0.817
|
Menstrual – Ischemi
|
-0.39900
|
-0.733
|
0.473
|
Proliferatif – Secretory
|
0.57700
|
1.337
|
0.197
|
Proliferatif – Ischemi
|
0.08150
|
0.230
|
0.821
|
Secretory – Ischemi
|
-0.49550
|
-1.208
|
0.242
|
Berdasarkan
hasil uji statistik tersebut di atas, penampilan fisik berupa lari 200 meter
keempat kelompok yaitu menstrual phase, proliferative phase, secretory phase,
dan ischemic phase tidak memiliki
perbedaan yang bermakna (sig > 0.05).
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Setelah dilakukan tes terhadap 20 siswi SMA ITP berupa
tes lari 200 meter pada saat siswi tersebut berada pada masing-masing phase
pada endometrium dan menstruasi. Ternyata hasil pengolahan data melalui uji-t
dengan program SPSS diperoleh hasil penampilan fisik berupa lari 200 meter
keempat kelompok yaitu menstrual phase, proliferative phase, secretory phase,
dan ischemic phase tidak memiliki
perbedaan yang bermakna (sig > 0.05).
Hasil ini menggambarkan bahwa wanita pada masa-masa phase yang secara
fisiologis dibagi menjadi empat phase yaitu menstrual phase, proliferative
phase, secretory phase, dan ischemic phase tidak mengalami perubahan atau
pengaruh kepada penampilan fisiknya yang berupa lari 200 meter. Namun perlu
disampaikan bahwa pada penelitian ini, tidak terdapat siswi yang mengalami
gangguan kondisi pada saat menstruasi, sedangkan hasil penelitian Dr. Dharampal
G, (2012), menyatakan bahwa ketidakhadiran dalam mengikuti pelajaran di sekolah
akibat dari problem menstruasi berkisar 13,9%. Dari jumlah tersebut diantaranya
mengalami sakit kepala, sakit pada bagian perut dan gangguan lainnya.
Apabila dikaji dengan mean dari kelompok masing-masing
phase juga tidak terdapat perbedaan yang berarti pada data hasil uji statistic
di atas yang berada antara rentang 51.3 detik – 51.9 detik yang semuanya tidak
pada hasil catatan waktu detik yang berbeda. Hasil ini menggambarkan bahwa
seorang wanita dalam kondisi phase menstruasi manapun pada phase yang lain
tidak mempengaruhi penampilan fisiknya dalam lari 200 meter.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil
analisa data dan pembahasan, maka dapat ditarik suatu kesimpulan dan saran
sebagai berikut :
Kesimpulan
Tidak terdapat perbedaan penampilan
gerak berupa waktu tempuh lari 200 meter pada seorang wanita dalam kondisi
menstrual phase, proliferative phase, secretory phase, dan ischemic phase, bagi
siswa yang tidak mengalami gangguan menstruasi.
Saran
1.
Bagi para peneliti perlu melakukan penelitian serupa
dengan sampel yang berbeda (misalkan atlet lari), populasi dan sampel yang
lebih banyak dan luas, kombinasi penampilan gerak yang lebih banyak (tidak
hanya lari 200 meter).
2.
Bagi para atlet, pelatih atau Pembina olahraga
khususnya pada cabang lari 200 meter, hasil penelitian ini dapat dijadikan
bahan untuk memotivasi pelarinya bahwa dalam kondisi phase endometrium dan
menstruasi yang manapun tidak memberikan pengaruh pada kondisi penampilan
geraknya.
Daftar Pustaka
Bobak, Lowdermilk, Jensen, 2004, Maternity Nursing, Jakarta;
EGC
Cooper, H., Kenneth, MDMPH,
Antonius Adiwiyoto. 1980. Aerobik,
Jakarta: PT
Gramedia.
Dharampal
G, 2012, Age at Menarche and Menstrual
Cycle Pattern among School
Adolescent Girls in Central India, Global
Journal of Health Science Vol. 4, No. 1.
Fox EL. 1984. Sport
Physiology. WBC Brown and Sounders Book.
Fox EL. 1993. The Physiology Basis For Exercise and Sport.
Tokyo WCB Brown and
Benchmark.
Guyton. 1994. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Giam CK, Teh KC (Alih bahasa oleh
Dr. Hartono Satmoko). 1992. Ilmu
Kedokteran
Olahraga. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Harber V, 2011, The Young Female Athlete: Using the Menstrual Cycle as a
Navigational
Beacon
for Healthy Development, Canadian Journal for Women in Coaching: Vol. 11, No. 3
Harisenjaya. 1993. Penuntun Test Kesegaran Jasmani.
Jakarta. Refika Aditama.
Harsono. 1988. Coaching dan Aspek-Aspek Psikologis dalam
Coaching, Jakarta: Dep.
P & K Dirjen Dikti.
Kapit W, Macey RL, Meisani E.
1987. The Physiology, Sanfransisco:
Harper Collins
Publisher.
Kasio D. 1993. Dasar-Dasar Ilmiah Kepelatihan.
Semarang. IKIP Semarang Press.
Kent M. 1994. The Oxford Dictionary of Sports Science and
Medicine, New York:
City
Press. Inc.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar