Senin, 28 Desember 2015

Penampilan Gerak Pada Wanita Dalam Siklus Endometrium dan Menstruasi

                                       Santika Rentika Hadi
                              Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga
FKIP Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Abstrak
Dalam siklus endometrium dan menstruasi terjadi beberapa fase yaitu Menstrual Phase, Proliferative Phase, Secretaory Phase dan Ischemi Phase. Pada Phase-phase tersebut terjadi perubahan-perubahan pencurahan hormone sex  (estrogen dan progesterone) yang erat hubungannya dengan psikologi (stress dan emosi). Kondisi psikologi pada siklus tersebut diduga mempengaruhi penampilan gerak seseorang, penampilan gerak dalam ketrampilan gerak yang berarti kemampuan yang membawa hasil secara maksimum dengan pasti mengeluarkan energi dan waktu yang minimum, Dalam penelitian ini ingin mengungkap perbedaan penampilan gerak dalam berlari 200 meter pada phase yang ada dalam siklus endometrium dan menstruasi tersebut. Didapatkan hasil uji statistik, bahwa penampilan gerak berupa lari 200 meter pada keempat kelompok yaitu menstrual phase, proliferative phase, secretory phase, dan ischemic phase  tidak memiliki perbedaan yang bermakna (sig > 0.05). Dengan demikian tidak terdapat perbedaan penampilan gerak berupa waktu tempuh lari 200 meter pada seorang wanita dalam kondisi menstrual phase, proliferative phase, secretory phase, dan ischemic phase.  

Kata Kunci : Penampilan Gerak, wanita, Siklus menstruasi 

PENDAHULUAN
Pencapaian prestasi cabang olahraga wanita memiliki kontribusi yang sama dengan kaum pria dalam mengangkat harkat dan martabat daerah, wilayah atau Negara yang diwakilinya. Para pembina, pelatih dan organisasi keolahragaan memfokuskan pembinaan pada cabang yang diikuti wanita dengan pertimbangan persaingan yang tidak terlalu tinggi. Kondisi tersebut juga memungkinkan upaya penyimpangan-penyimpangan  / kecurangan dilakukan oleh pembina, pelatih maupun atlet. Untuk mencermati terjadinya kecurangan dengan keikutsertaan pria dalam cabang olahraga yang diikuti wanita, Komite Olimpiade Internasional memberlakukan pengawasan kewanitaan melalui analisis kromosom. Adanya badan barr pada folikel rambut memberi bukti kewanitaan secara cepat dan dapat dipercaya. Badan barr hanya dalam folikel rambut wanita karena badan barr hanya dibentuk oleh kromosom X yang kedua atau lebih, sedangkan pria  hanya memiliki satu kromosom X (Giam CK, Teh KC, 1992).
            Untuk menunjang prestasi cabang olahraga yang diikuti wanita, berbagai kajian yang terkait sangat diperlukan Pembina, pelatih maupun atlet. Wanita dalam gerak olahraga sangat banyak resistan yang memberikan rentang dengan prestasi atlet pria. Problem yang mewarnai gerak olahraga wanita diantaranya timbunan lemak yang lebih banyak pada wanita, hormon, siklus endometrium dan menstruasi yang hanya dimikliki kaum wanita. Salah satu problem kewanitaan adalah siklus endometrium dan menstruasi yang memberikan berbagai perubahan psikologi maupun fisik bagi wanita yang melaluinya. Menstruasi adalah perdarahan periodik dari uterus yang dimulai sekitar 14 hari setelah ovulasi secara berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus (Bobak, 2004). Suzanne C (2001), mendeskripsikan siklus menstruasi adalah proses kompleks yang mencakup reproduktif dan endokrin. Menurut Bobak (2004), Siklus menstruasi merupakan rangkaian peristiwa yang secara kompleks saling mempengaruhi dan terjadi secara simultan.
Dalam siklus endometrium dan menstruasi terjadi beberapa fase yaitu Menstrual Phase, Proliferative Phase, Secretaory Phase dan Ischemi Phase. Pada Phase-phase tersebut terjadi perubahan-perubahan pencurahan hormone sex  (estrogen dan progesterone) yang erat hubungannya dengan psikologi (stress dan emosi). Rasa nyaman dan tidak nyaman (stabilitas emosi) tersebut akan berkaitan dengan penampilan seseorang dalam melakukan kegiatan fisik / olahraga ( Kapit W. Macey RI. Meisami E, 1987 ). Sedangkan menurut Kent Michael (1994),  Penampilan optimal wanita bervariasi antar individu dalam phase menstruasi, beberapa wanita justru ada yang berpenampilan baik selama menstruasi.
Penampilan seseorang dalam melakukan kegiatan fisik / olahraga memiliki banyak faktor yang menjadi indicator kebaikan penampilannya. Ada beberapa kwalitas fisik dasar yang akan menjadikan penampilan gerak seseorang menjadi baik diantaranya : kekuatan, daya ledak, kelincahan, kelentukan, daya tahan, ketepatan, kecepatan, stamina dan lainnya.  Kondisi emosi akibat phase-phase endometrium dan menstruasi yang terjadi diperkirakan mempengaruhi penampilan gerak, dalam hal ini penampilan gerak merupakan ketrampilan gerak yang berarti  kemampuan yang membawa hasil secara maksimum dengan pasti mengeluarkan energi dan waktu yang minimum. Salah satu bentuk penampilan seseorang yang lazim dijadikan patokan tingkat kesiapan penampilan fisik seseorang adalah VO2 Max seseorang yang salah satunya dapat ditandai dengan kemampuan seseorang melakukan lari selama 12 menit. Pencapaian kebugaran fisik, akan mempengaruhi penampilan berlari seseorang, termasuk kemampuan seseorang untuk berlari dalam jarak 200 meter.
Memperhatikan konsep diatas, bahwa phase-phase yang terjadi dalam siklus menstruasi pada wanita akan membuat seorang wanita mengalami perubahan stabilitas emosi yang dikaitkan dengan kemampuannya dalam menunjukkan penampilan gerak, sementara dilain fihak berpendapat bahwa penampilan optimal oleh seorang wanita tidak terpengaruh pada saat phase menstruasi,  peneliti  belum menemukan penelitian yang mengungkap sampai pada phase endometrium  yaitu Proliferative Phase, Secretaory Phase dan Ischemi Phase, menjadi sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam menjadi sebuah penelitian. Sehingga muncul masalah “ Apakah terjadi perubahan kualitas penampilan gerak seorang wanita dalam phase-phase endometrium dan menstruasi ?”.  Dengan munculnya masalah yang kemudian dibuktikan, maka dapat mengungkap pengaruh phase-phase endometrium dan menstruase pada kesetabilan emosi seorang wanita, sehingga dapat membekali seorang Pembina, pelatih maupun atlet dalam menangani pencapaian penampilan gerak yang diinginkan. Dan mengetahui bahwa masing-masing phase endometrium dan menstruasi memiliki dampak penampilan gerak yang berbeda, sehingga dapat dijadikan acuan penepatan phase tertentu melalui medis  yang memiliki penampilan terbaik dengan puncak pertandingan yang harus dilakukan.
MENSTRUASI DAN GERAK TUBUH
Menstrual Cycle adalah siklus dari kematangan sex pada wanita, yang ditandai dengan runtuhnya darah dari dinding uterus, dengan interval tiap bulanan (Kent Michael, 1994). Kondisi menstruasi dapat menandai kondisi kesehatan dan kondisi suasana hati. Dapat memberikan informasi tentang status energy, resiko cidera otot, input nutrisi, kondisi metabolism tubuh dan hormon, recovery dan kondisi lain yang merupakan wilayah puncak performance seorang wanita (Harber V, 2011). Menurut Guyton ( 1994 ), produksi berulang dari estrogen dan progesteron oleh ovarium mempunyai kaitan dengan siklus endometrium yang bekerja melalui tahapan berikut ini : pertama, proliferasi dari endometrium uterus; kedua, perubahan sekretoris pada endometrium, dan ketiga, deskuamasi dari endometrium, yang dikenal sebagai menstruasi.
            Tahap Proliferasi (tahap estrogen) dari siklus Endometrium. Pada permulaan setiap siklus seksual bulanan, sebagian besar endometrium akan terdeskuamasi oleh proses menstruasi. Hanya selapis tipis stroma endometrium yang tertinggal pada bagian dasar endometrium semula. Permukaan endometrium akan terepitelialiasi ulang dalam waktu tiga sampai tujuh hari sesudah menstruasi. Selama dua minggu pertama dari siklus seksual, sampai ovulasi-endometrium bertambah tebal, disebabkan bertambah banyaknya sel stroma dan karena pertumbuhan yang progresif dari kelenjar endometrium serta pembuluh darah ke dalam endometrium. Pada saat ovulasi, endometrium mempunyai ketebalan sekitar 3-4 mm. Pada saat ini, akan tersekresi mucus yang encer mirip benang membentuk saluran sepanjang kanalis servikalis yang akan membantu mengarahkan sperma menuju ke dalam uterus.
            Tahap Sekretorik (Tahap Progestasional) dari siklus endometrium.  Selama sepuluh akhir siklus bulanan, progesterone serta estrogen disekresi dalam jumlah yang besar oleh korpus luteum. Sitoplasma dari sel stroma, dan pasokan darah ke dalam endometrium juga bertambah sebanding dengan perkembangan aktivitas sekresi, sedangkan pembuluh darah menjadi sangat berkelok-kelok. Pada akhir tahap ini ketebalan endometrium menjadi 5-6 mm. Dalam tahap ini membentuk endometrium yang mengandung sejumlah besar cadangan nutrient yang dapat membentuk kondisi yang cocok untuk penanaman ovum yang sudah dibuahi, yang akhirnya membentuk persediaan nutrisi yang lebih banyak bagi embrio.
            Menstruasi, Kira-kira dua hari sebelum akhir dari siklus bulanan, hormone-hormon ovarium, yaitu estrogen dan progesterone berkurang sampai ke tingkatan yang rendah (Ischemic Phase) dan diikuti dengan terjadinya menstruasi. Menstruasi disebabkan karena penurunan mendadak dari estrogen dan progesterone pada akhir siklus ovarium bulanan. Efek pertama adalah berkurangnya rangsang kedua hormone tersebut terhadap sel-sel endometrium, yang diikuti dengan cepat oleh involusi dari endometrium itu sendiri sampai sekitar 65 % dari ketebalan semula. Hilangnya rangsang hormonal dilanjutkan dengan terjadinya vasospasme menyebabkan dimulainya proses nekrosis pada endometrium, khususnya dari pembuluh darah di stratum vaskularis.  Sebagai akibatnya darah akan merembas ke lapisan vascular dari endometrium, dan perdarahan akan bertambah besar dalam waktu 24 – 36 jam.  Sekitar 48 jam setelah terjadinya menstruasi, semua lapisan superficial dari endometrium sudah terdeskuamasi. Jaringan deskuamasi dan darah di dalam kavitas uterus akan merangsang kontraksi uterus yang menyebabkan dikeluarkannya isi uterus.
            Menurut Kapit W, Macey RI, Meisami E (1987), Pada saat menstruasi, estrogen menjadi rendah, kemudian terjadi perubahan rendah estrogen  ke tinggi estrogen  dalam phase proliferasi, pada phase sekretorik terjadi estrogen dan progesterone yang tinggi. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi kondisi psikologis seseorang (stress dan emosi).
Sebaliknya kondisi psikologis (stress dan emosi) juga dapat berpengaruh terhadap ketidakteraturan siklus seksual wanita.  Eksperimen menunjukkan bahwa infuse estrogen pada wanita untuk periode satu sampai tiga hari selama paruh pertama dari siklus ovarium menyebabkan makin cepatnya pertumbuhan volikel dan juga mempercepat sekresi estrogen dari ovarium (Guyton, 1994 ).  Dengan infuse estrogen pada wanita dapat menjadikan percepatan (pengaturan) menstruasi yang dapat digunakan Pembina, pelatih dan atlet untuk mengatur phase yang dikehendaki dalam puncak pertandingan yang dituju.
            Kemampuan seseorang untuk melaksanakan pekerjaan berat sehari-hari dengan mudah tanpa merasa cepat lelah, dan masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggang atau untuk keperluan yang sewaktu-waktu dapat digunakan.  Orang yang memiliki kesegaran jasmani yang baik, akan dapat menjalankan pekerjaan yang sukar atau berat dengan hanya memerlukan waktu singkat, dibandingkan dengan orang yang kesegaran jasmaninya termasuk kurang (Harisenjaya,  1993). Seseorang yang memiliki kesegaran jasmani yang baik akan memiliki kesiapan melakukan berbagai tugas gerak yang diperlukan menjadi lebih baik dibanding orang dengan kesegaran jasmani yang buruk. Maka dengan mengetahui tingkat kesegaran jasmani seseorang akan dapat menggambarkan kemampuan geraknya. Kesegaran jasmani yang baik akan mendukung penampilan gerak yang baik dalam waktu yang lebih lama dibanding kesegaran jasmani yang buruk.   
            Kesegaran jasmani mencakup tiga aspek yaitu : 1. Kesegaran statis atau medis, yaitu keadaan kemampuan organ tubuh seperti jantung dan paru; 2. Kesegaran dinamis atau fungsional, yaitu tingkat keefektifan fungsional tubuh manusia sehubungan dengan gerak kerja optimal; 3. Kesegaran ketrampilan gerak atau ketrampilan motori, yaitu tingkat kemantapan koordinasi dan kekuatan dalam penampilan. Untuk dapat mengukur kesegaran jasmani seseorang terdapat beberapa tes diantaranya : jalan cepat 4800 meter, tes lari lapangan 2400 meter, tes lari lapangan menempuh waktu selama 12 menit, dan  tes lari di tempat (Cooper.H, 1980).
            Siklus menstruasi dan endometrium adalah fenomena fisiologi yang komplek (Fox, 1993). Masing-masing individu memiliki karakteristik yang berbeda. Terkait dengan penampilan olahraga wanita lebih jauh Fox (1993) menyajikan data bahwa seorang wanita mulai mengalami siklus menstruasi yang pertama pada tahun-tahun yang berbeda mislkan : Non atlet pada umumnya pada tahun ke 12,29; Perenang pada usia 13,4 th; Atlet lapangan tingkat Nasional pada usia 13,58;  Pelari jarak jauh tingkat nasional pada usia 14,10 dan Atlet bola voli olimpiade pada usia 14,18.
            Ada anggapan bahwa potensi olahragawan wanita dalam latihan menjadi lemah selama periode menstruasi. Penelitian lain menyatakan bahwa respon-respon fisiologis terhadap olahraga sebelum siklus haid sangat berbeda pada wanita yang berlainan.  Bukti lain menunjukkan bahwa kebanyakan wanita dapat berlatih dan bertanding dengan normal selama menstruasi, namun beberapa wanita mengalami penahanan cairan dan kejang perut sebelum menstruasi dan pada masa berlangsungnya menstruasi (Kasio,  1993). Data lain yang ditunjukkan oleh Fox (1993) mengenai phase menstruasi pada atlet sering bertepatan dengan masa latihan dan kompetisi sebagai berikut :
Pada kondisi latihan  prosentase atlet dalam phase menstruasi yang selalu berpartisipasi terdapat 34 %, yang kadang-kadang saja 54 % sedangkan yang tidak latihan pada saat menstruasi adalh 12 %. Sedangkan pada kondisi kompetisi  prosentase atlet dalam phase menstruasi yang selalu berpartisipasi terdapat 69 %, yang kadang-kadang saja 31 % sedangkan yang tidak latihan pada saat menstruasi adalh 0 %.

METODE
Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu dengan menggunakan rancangan One Sample Randomized  Research, perlakuan alamiah siklus kewanitaan dipadukan dengan pengujian penampilan gerak berupa lari 200 meter, dilakukan tiap siklus yang berjalan tiap 7 hari terjadi perubahan siklus. Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah siswa putri kelas 2 SMA ITP Surabaya, Jl. Dukuh Menanggal XII Surabaya yang mengikuti ekstra kurikuler bola basket sejumlah 20 siswi. Dari populasi yang ada diambil keseluruhannya sejumlah 20 siswi sebagai sampel.
Data mengenai keadaan sampel dalam phase-phase menstruasi diperoleh melalui angket kepada siswi sample. Sedangkan data tentang penampilan gerak diperoleh melalui pelaksanaan tes lari lapangan menempuh jarak 200 meter kepada sample sebanyak 4 kali pengambilan data dengan rentang waktu satu minggu. Dari 20 siswi sample setiap kali diadakan tes lari lapangan menempuh jarak 200 meter. diminta memberi keterangan tentang posisi siklus menstruasinya.
                  Data tentang kondisi seorang wanita dalam phase-phase menstruasi yang diperoleh melalui angket dideskripsikan untuk difokuskan ditelaah kemudian dikaitkan dengan hasil  perbedaan penampilan gerak pada seorang wanita dalam phase-phase menstruasi. Data dari pelaksanaan tes lari lapangan menempuh jarak 200 meter  siswi sample yang dilaksanakan pada tiap phase  dalam siklus endometrium dan menstruasi dicari ada atau tidaknya perbedaan melalui perhitungan statistic  melalui program SPSS.

HASIL
Data yang telah terkumpul ditabulasikan kemudian diproses dalam analisis statistic melalui program SPSS. Hasil dari perbedaan antar kelompok antara penampilan fisik pada kelompok menstrual phase, proliferative phase, secretory phase, dan ischemic phase dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 1
Hasil statistik deskriptif berbagai kelompok

              
KELOMPOK

MEAN

SD

SE


Menstrual
Proliferatif
Secretory
Ischemi


51.4875
51.9680
51.3910
51.8865

5.01008
4.81059
5.13308
4.95826

1.12029
1.07568
1.14779
1.10870



Tabel 2
Hasil Uji Anava Perbedaan Antar Kelompok menstrual phase, proliferative phase, secretory phase, dan ischemic phase


KELOMPOK


MEAN



SD
ANAVA

F

SIG

Menstrual

51.4875


5.01008








0.066








0.978

Proliferatif


51.9680

4.81059

Secretory


51.3910

5.13308

Ischemi


51.8865

4.95826

Menstrual


51.4875


5.01008


Proliferatif


51.9680

4.81059

Tabel 3
Hasil Uji-t Perbedaan Antar Kelompok menstrual phase, proliferative phase, secretory phase, dan ischemic phase



KELOMPOK

MEAN DIFFERENCE



t


SIG

Menstrual – Proliferatif


-0.48050

-0.978

0.340

Menstrual – Secretory


0.09650

0.235

0.817

Menstrual – Ischemi


-0.39900

-0.733

0.473

Proliferatif – Secretory


0.57700

1.337

0.197

Proliferatif – Ischemi


0.08150

0.230

0.821

Secretory – Ischemi


-0.49550

-1.208

0.242



            Berdasarkan hasil uji statistik tersebut di atas, penampilan fisik berupa lari 200 meter keempat kelompok yaitu menstrual phase, proliferative phase, secretory phase, dan ischemic phase  tidak memiliki perbedaan yang bermakna (sig > 0.05).

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Setelah dilakukan tes terhadap 20 siswi SMA ITP berupa tes lari 200 meter pada saat siswi tersebut berada pada masing-masing phase pada endometrium dan menstruasi. Ternyata hasil pengolahan data melalui uji-t dengan program SPSS diperoleh hasil penampilan fisik berupa lari 200 meter keempat kelompok yaitu menstrual phase, proliferative phase, secretory phase, dan ischemic phase  tidak memiliki perbedaan yang bermakna (sig > 0.05).   Hasil ini menggambarkan bahwa wanita pada masa-masa phase yang secara fisiologis dibagi menjadi empat phase yaitu menstrual phase, proliferative phase, secretory phase, dan ischemic phase tidak mengalami perubahan atau pengaruh kepada penampilan fisiknya yang berupa lari 200 meter. Namun perlu disampaikan bahwa pada penelitian ini, tidak terdapat siswi yang mengalami gangguan kondisi pada saat menstruasi, sedangkan hasil penelitian Dr. Dharampal G, (2012), menyatakan bahwa ketidakhadiran dalam mengikuti pelajaran di sekolah akibat dari problem menstruasi berkisar 13,9%. Dari jumlah tersebut diantaranya mengalami sakit kepala, sakit pada bagian perut dan gangguan lainnya.
Apabila dikaji dengan mean dari kelompok masing-masing phase juga tidak terdapat perbedaan yang berarti pada data hasil uji statistic di atas yang berada antara rentang 51.3 detik – 51.9 detik yang semuanya tidak pada hasil catatan waktu detik yang berbeda. Hasil ini menggambarkan bahwa seorang wanita dalam kondisi phase menstruasi manapun pada phase yang lain tidak mempengaruhi penampilan fisiknya dalam lari 200 meter.

      KESIMPULAN DAN SARAN
                 Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan, maka dapat ditarik suatu kesimpulan dan saran sebagai berikut :
Kesimpulan
Tidak terdapat perbedaan penampilan gerak berupa waktu tempuh lari 200 meter pada seorang wanita dalam kondisi menstrual phase, proliferative phase, secretory phase, dan ischemic phase, bagi siswa yang tidak mengalami gangguan menstruasi.
Saran
1.      Bagi para peneliti perlu melakukan penelitian serupa dengan sampel yang berbeda (misalkan atlet lari), populasi dan sampel yang lebih banyak dan luas, kombinasi penampilan gerak yang lebih banyak (tidak hanya lari 200 meter).
2.      Bagi para atlet, pelatih atau Pembina olahraga khususnya pada cabang lari 200 meter, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan untuk memotivasi pelarinya bahwa dalam kondisi phase endometrium dan menstruasi yang manapun tidak memberikan pengaruh pada kondisi penampilan geraknya.  

Daftar Pustaka



Bobak, Lowdermilk, Jensen, 2004, Maternity Nursing, Jakarta; EGC

Cooper, H., Kenneth, MDMPH, Antonius Adiwiyoto. 1980. Aerobik, Jakarta: PT
          Gramedia.

Dharampal G, 2012, Age at Menarche and Menstrual Cycle Pattern among School
Adolescent Girls in Central India, Global Journal of Health Science Vol. 4, No. 1.

Fox EL. 1984.  Sport Physiology. WBC Brown and Sounders Book.

Fox EL. 1993. The Physiology Basis For Exercise and Sport. Tokyo WCB Brown and
          Benchmark.

Guyton. 1994. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran 
          EGC.

Giam CK, Teh KC (Alih bahasa oleh Dr. Hartono Satmoko). 1992. Ilmu Kedokteran
          Olahraga.  Jakarta: Bina Rupa Aksara.


Harber  V, 2011, The Young Female Athlete: Using the Menstrual Cycle as a Navigational
Beacon for Healthy Development, Canadian Journal for Women in Coaching:  Vol. 11, No. 3

Harisenjaya. 1993. Penuntun Test Kesegaran Jasmani. Jakarta. Refika Aditama.

Harsono. 1988. Coaching dan Aspek-Aspek Psikologis dalam Coaching, Jakarta: Dep.
          P & K  Dirjen Dikti.

Kapit W, Macey RL, Meisani E. 1987. The Physiology, Sanfransisco: Harper Collins
          Publisher.

Kasio D. 1993. Dasar-Dasar Ilmiah Kepelatihan. Semarang. IKIP Semarang Press.

Kent M. 1994. The Oxford Dictionary of Sports Science and Medicine, New York:
          City  Press. Inc.

Suzanne C, Smeltzer, 2001, Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar